Hukum Permintaan (The Law of Demand)

Memahami teori permintaan, kurva permintaan, dan hukum permintaan sangat penting. Pasalnya, permintaan atau demand selalu berkaitan langsung dengan aktivitas perekonomian sehari-hari. Ketika kamu berbelanja ke pasar dan menemukan harga barang yang diinginkan naik, apa yang kamu pikirkan? Berdasarkan teori permintaan, harga selalu dipengaruhi oleh permintaan. Jika barang yang tersedia sedikit, namun konsumen banyak yang berminat, maka harga barang akan meningkat.

Hal ini nantinya juga akan berkaitan dengan hukum penawaran. Singkatnya, bunyi hukum penawaran seperti ini: “jika harga produk tinggi, penarawan produk akan meningkat. Jika harga produk rendah, penawaran produk akan menurun. Namun, pada kesempatan ini, invesnesia akan berfokus membahas materi hukum permintaan. Namun sebelum itu, ada baiknya kamu mengenal secara ringkas apa itu permintaan (demand).

Definisi Permintaan

Secara ringkas, permintaan adalah suatu hasrat untuk memiliki sesuatu, dalam konteks ekonomi akan mengacu pada produk atau komoditas. Teori permintaan menunjukkan bahwa harga komoditas dipengaruhi oleh demand. Mengapa memahami demand sangat penting? Di dalam bisnis, ketika perusahaan memahami faktor yang memengaruhi permintaan konsumen, perusahaan akan mampu memaksimalkan penjualan. Sebaliknya, perusahaan akan “leaving money on the table” bila tidak memahami permintaan konsumen.

Di dalam ilmu ekonomi, permintaan yang menjadi sasaran utama adalah permintaan efektif (effective demand) – yaitu adanya keinginan dan kemampuan dari konsumen untuk membeli produk, sehingga akan terjadi transaksi jual beli. Lalu ada yang disebut permintaan absolut (absolute demand) – keinginan untuk membeli barang namun tidak diiringi kemampuan daya beli sehingga tidak tercipta transaksi. Lalu, ada pula yang disebut permintaan potensial (potential demand) – adanya keinginan dan kemampuan untuk membeli produk, namun tertunda karena faktor tertentu.

Baca lebih lengkap: Makalah Permintaan (Demand)

Definini Hukum Permintaan

Gambar Hukum Permintaan

Pada dasarnya, the law of demand atau hukum permintaan adalah suatu fungsional antara harga produk dan kuantitas yang diminta. Bunyi hukum permintaan seperti ini: “bila harga barang/komoditas naik, jumlah permintaan turun. Sebaliknya, bila harga barang turun, permintaan melonjak, cateris paribus – asumsi bahwa faktor-faktor lainnya bersifat konstan”.

Dengan demikian, terjadi hubungan terbalik antara harga barang dan kuantitas barang yang diminta. Perlu dicatat, hukum permintaan tidak sah atau tidak berlaku ketika “faktor-faktor lain tidak bersifat tetap/konstan”. Lalu, apa saja faktor-faktor yang tidak boleh berubah tersebut agar asumsi hukum permintaan terpenuhi?

  1. Pendapatan konsumen (consumer’s income). Bila pendapatan konsumen naik, tentu saja permintaan ikut naik. Sebaliknya, bila pendapatan turu, konsumsi juga turun. Jadi, hukum permintaan tidak berlaku bila pendapatan konsumen berubah. Asumsi ini mewajibkan pendapatan konsumen bersifat tetap.
  2. Selera dan preferensi konsumen. Asumsi ini juga harus terpenuhi. Bila selera dan preferensi konsumen berubah, tentu saja akan berdampak pada permintaan. Jadi, selera dan preferensi konsumen diasumsikan tidak boleh berubah.
  3. Harga barang pengganti dan pelengkap. Asumsi ini menjelaskan bahwa hukum permintaan tidak berlaku bila harga barang substitusi dan barang komplementer berubah, baik perubahan ke naik, maupun turun.

Mengapa Hukum Permintaan Beroperasi?

Kurva permintaan pada umumnya melandai ke kanan bawah. Hal ini karena bekerjanya hukum utilitas marjinal (marginal utility) yang semakin berkurang. Ketika harga suatu komoditas turun, permintaan baru akan tercipta. Juga, pembeli yang sudah ada akan membeli lebih banyak produk. Karena komoditas tertentu menjadi lebih murah, beberapa orang akan lebih memilih untuk membelinya dari pada komoditas lain. Jika hukum utilitas marginal yang semakin berkurang benar-benar terjadi, kurva permintaan harus miring ke bawah.

Baca juga: Makalah Kurva Permintaan

Hal ini karena hanya kurva permintaan miring ke bawah yang menunjukkan peningkatan permintaan karena jatuhnya harga suatu komoditas. Selanjutnya, ketika harga suatu komoditas turun, pendapatan riil masyarakat akan meningkat. Dengan kata lain, masyarakat dapat membeli lebih banyak barang dan jasa sekarang dengan jumlah uang yang sama dengan yang mereka miliki. Ini disebut efek pendapatan (income effect).

Begitu pula bila harga komoditas tersebut lebih murah, maka cenderung tersubstitusi dengan komoditas lain yang harganya lebih mahal. Ini disebut efek substitusi (substitution effect). Baik efek pendapatan maupun efek substitusi secara bersama-sama meningkatkan kapasitas konsumen untuk membeli lebih banyak komoditas, ketika harganya berada pada level rendah. Alasan lain untuk kurva permintaan yang miring ke bawah adalah bahwa ketika harga suatu komoditas menjadi lebih murah, komoditas tersebut dapat digunakan lebih banyak. Ini juga membuat permintaan menjadi lebih besar saat harga komoditas turun.

Pengecualian dari Hukum Permintaan

Ada beberapa pengecualian pada hukum permintaan. Artinya, kondisi hukum tidak berlaku bila terjadi beberapa kondisi.

1. Ada barang tertentu yang disebut barang Giffen

The law of demand tidak berlaku untuk barang Gifen. Sir Francis Giffen mengamati bahwa ketika harga kentang Irlandia meningkat pada tahun-tahun yang buruk, orang-orang membatasi pengeluaran untuk komoditas lain dan, meningkatkan pengeluaran mereka untuk kentang. Karena dengan harga kentang yang tinggi dan tidak ada peningkatan pendapatan, maka masyarakat sekarang terlalu miskin untuk membeli daging dan bahan komoditas lainnya.

Dalam keadaan seperti itu, masyarakat harus menghidupi diri sendiri dengan makan lebih banyak kentang. Artinya orang-orang menuntut lebih banyak kentang ketika harga mereka naik dan sebaliknya. Ini disebut Paradoks Giffen.

2. Dalam kasus konsumsi yang mencolok

Hukum permintaan tidak berlaku untuk konsumsi mencolok. Seperti yang diamati oleh Thorstein Veblen, kurva permintaan tidak miring ke bawah.Terkadang orang membeli beberapa produk untuk menunjukkan statusnya di masyarakat. Kepemilikan komoditas semacam itu, menurut mereka, dapat memberikan status sosial yang lebih tinggi kepada pemiliknya. Contoh barang-barang yaitu emas, berlian, perak, dan logam mulia lainnya. Lebih lanjut, kelas kaya membeli barang semacam itu dengan harga yang sangat tinggi hanya untuk menunjukkan eksistensi. (Baca juga: cara beli emas Antam untuk pemula).

3. Komoditas yang kualitasnya dinilai dari harga tinggi

Hukum permintaan tidak berlaku pada kondisi seperti ini. Pada harga tinggi, beberapa orang membeli lebih banyak komoditas tertentu dari pada saat harga lebih rendah karena berpikir bahwa harga tinggi lebih baik dari pada harga lebih rendah. Biasanya, kondisi ini terjadi atas dasar ketidaktahuan belaka.

4. Spekulasi

The law of demand tidak belaku untuk tindakan spekulatif. Misalnya, konsumen bertindak sesuai dengan prediksi akan peristiwa yang belum tentu terjadi di masa depan. Jika harga komoditas naik dan orang-orang mengharapkan kenaikan harga lebih lanjut, mereka akan cenderung membeli lebih banyak komoditas dengan harga lebih tinggi daripada yang mereka lakukan dengan harga lebih rendah. Contoh, ketika ada kenaikan harga bensin baru-baru ini, beberapa orang akan membeli lebih banyak dengan asumsi bahwa harga di masa depan akan lebih tinggi lagi.

Simpulan Hukum Permintaan

Pada dasarnya, hukum permintaan adalah tentang bagaimana hubungan harga suatu produk dengan kuantitas yang diminta. Ada hubungan terbalik antara harga dan kuantitas. Harga barang naik, kuantitas permintaan turun. Harga barang turun, kuantitas permintaan meningkat. Namun, asumsi hukum permintaan harus terpenuhi, seperti yang telah dijelaskan. Kemudian, penting juga untuk memahami seperti apa hukum permintaan bekerja dan apa saja pengecualian dari hukum permintaan.

error: Content is protected !!