Definisi Rasio Likuiditas: Jenis, Rumus, Contoh Soal, Analisis

Rasio keuangan yang digunakan untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban (utang) yaitu rasio likuiditas (liquidity ratio). Analisis rasio likuiditas bisa digunakan oleh berbagai pihak, let’s say investor, kreditur, supplier, dan pihak berkepentingan lainnya. Rasio likuiditas merupakan salah satu dari lima (5) jenis rasio keuangan yang telah dikelompokkan oleh Brigham & Houston (2013), sebagai berikut.

  1. Rasio Likuditas
  2. Rasio Aktivitas
  3. Rasio Leverage
  4. Rasio Profitabilitas
  5. Rasio Nilai Pasar (Market Value Ratios)

Pada kesempatan ini, invesnesia akan menyajikan makalah rasio likuiditas yang membahas mulai dari apa itu rasio likuiditas; jenis atau macam-macam rasio likuiditas; cara menganalisis dan menghitung nilai rasio likuiditas, nilai rasio likuiditas yang sehat atau baik, dan contoh soal rasio likuiditas perusahaan Tbk.

Definisi Rasio Likuiditas

Gambar Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk melunasi utang pada saat jatuh tempo (Brigham & Houston, 2013). Menurut Horne & Wachowicz (2009), pengertian rasio likuiditas yaitu suatu pengukuran yang menunjukkan kemampuan aset lancar perusahaan untuk membiayai kewajiban (utang) jangka pendek. Semakin tinggi nilai rasio likuiditas, semakin baik kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek (utang lancar).

Hubungan antara Rasio Likuiditas dan Neraca

Ketika berbicara mengenai rasio likuiditas, itu sangat berkaitan dengan neraca (balance sheet). Kenapa? Karena semua data atau angka-angka untuk menghitung nilai rasio likuiditas berasal dari neraca atau laporan posisi keuangan perusahaan. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk memahami apa itu neraca dan apa saja komponen di dalamnya. Secara ringkas, ada tiga (3) komponen utama di dalam neraca, yaitu sebagai berikut.

  1. Aset (assets), terdiri dari aset lancar (current assets) dan aset tetap (fixed assets). Aset lancar bisa berupa kas, surat berharga, piutang, persediaan, dan biaya dibayar di muka. Sedangkan aset tetap dapat berupa aset berwujud dan aset tak berwujud.
  2. Utang (liabilities), terdiri dari utang jangka pendek (current liabilities) dan utang jangka panjang (long-term liabilities). Utang lancar/jangka pendek bisa berupa utang usaha, utang wesel, dan lainnya. Begitu juga dengan utang jangka panjang, bisa berupa utang hipotek dan utang obligasi.
  3. Ekuitas (equity), terdiri dari modal saham pemilik, tambahan modal disetor, laba ditahan, dan saham treasury.

Kamu sangat disarankan untuk menguasi dengan baik mulai dari definisi, fungsi, komponen, hingga contoh neraca perusahaan. Makalah neraca bisa dibaca di sini: Neraca (Laporan Posisi Keuangan).

Jenis Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah salah satu jenis rasio keuangan yang terbagi menjadi beberapa macam. Secara umum, ada dua macam rasio likuiditas, yaitu sebagai berikut.

  1. Rasio Lancar (Quick Ratio)
  2. Rasio Cepat (Current Ratio)

Meskipun begitu, Fabozzi & Drake (2009) menambahkan Net Working Capital-to-Sales Ratio sebagai salah satu jenis rasio likuiditas lainnya. Nah, untuk pembahasan kali ini, invesnesia hanya akan menggunakan dua jenis rasio likuiditas yang paling umum saja.

1. Rasio Lancar (Current Ratio)

Apa itu rasio lancar (current ratio)? Menurut Sherman (2015), rasio lancar adalah cara paling sederhana untuk melihat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendeknya. Menurut Fabozzi & Drake (2009), current ratio mengindikasikan seberapa besar kemampuan aset lancar (current assets) perusahaan dalam membiayai utang jangka pendek (current liabilities).

Formula atau cara menghitung rasio lancar yaitu dengan membagi aset lancar dengan utang jangka pendek. Rumus current ratio dapat ditampilkan sebagai berikut (Brigham & Houston, 2013).

CR = CA / CL

Keterangan:

CR = current ratio

CA = current assets

CL = current liabilities

Contoh Soal Rasio Lancar

Sebagai contoh soal untuk rasio lancar (current ratio), invesnesia akan mengambil kasus rasio keuangan perusahaan Tbk di BEI, dengan sampel PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk yang bergerak di sektor manufaktur. Sebagaimana yang telah disampaikan, semua angka-angka untuk menghitung rasio lancar bisa diperoleh dari neraca perusahaan. Berikut angka-angka di dalam neraca PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Total Aset Lancar = 16.624.925
  • Total Liabilitas Jangka Pendek = 6.556.359

Jawab:

  • Current Ratio = 16.624.925 / 6.556.359
  • Current Ratio = 2,5 kali (x)

Cara Menginterpretasikan Rasio Lancar

Diketahui nilai current ratio PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk tahun 2019 yaitu 2,5 x. Lalu, bagaimana cara menafsirkan nilai rasio keuangan tersebut? Rasio lancar tersebut mengindikasikan bahwa Indofood memiliki 2,5 kali (x) lebih banyak dari aset lancar yang dibutuhkan untuk menutupi kewajiban lancarnya selama periode 2019. Berapa nilai rasio lancar (current ratio) yang bagus? Secara matematis, current ratio perusahaan yang ideal minimal 2 kali lebih besar dari jumlah liabilitas jangka pendek. Nilai rasio lancar dapat dikonversi dalam bentuk satuan kali (x) atau persentase (%). 2,5 x setara dengan 250%.

Cara Analisis Rasio Lancar

Bagaimana cara menganalisis rasio lancar (current ratio) perusahaan? Metode analisis rasio keuangan perusahaan yang paling umum digunakan yaitu dengan pendekatan perbandingan industri (industry comparison). Dengan kata lain, nilai current ratio perusahaan dibandingkan dengan nilai current ratio dari rata-rata industri (industry average).

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk adalah perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur, atau lebih spesifik berada di sektor industri barang konsumsi (consumer goods). Untuk melakukan analisis, kamu harus mencari tahu berapa nilai rata-rata current ratio di industri consumer goods. Cara mencari nilai rata-rata industri rasio lancar yaitu dengan menjumlahkan semua nilai rasio lancar perusahaan di sektor consumer goods kemudian dibagi dengan jumlah perusahaan di sektor tersebut.

Baca juga: Semua Sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Sebagai contoh, ada 54 perusahaan yang terdaftar di sektor consumer goods pada 2019. Setelah dihitung, rata-rata rasio lancar sektor consumer goods yaitu 1,5 kali. Dengan demikian, nilai current ratio Indofood berada di atas rata-rata industri. Itu mengindikasikan bahwa posisi likuiditas Indofood sangat kuat dan aman. Berikut beberapa indikasi yang perlu diperhatikan dari rasio lancar.

  • Nilai rasio lancar yang tinggi menunjukkan posisi likuiditas perusahaan sangat baik. Sebaliknya, posisi likuiditas perusahaan dianggap lemah jika rasio lancar bernilai kecil atau jauh di bawah rata-rata industri.
  • Nilai rasio lancar yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki terlalu banyak persediaan (inventories) dan piutang lama. Jika dibiarkan terlalu lama, maka akan menimbulkan penumpukan persediaan dan piutang tak tertagih (bad debt).
  • Rasio lancar yang tinggi juga dapat menunjukkan bahwa perusahaan memiliki terlalu banyak kas, piutang, dan inventaris yang relatif terhadap penjualannya. Dengan kata lain, aset lancar (current assets) perusahaan tidak dikelola secara efisien dan efektif.
  • Nilai rata-rata industri suatu rasio lancar bukanlah angka mutlak untuk menilai posisi likuiditas perusahaan. Namun, jika rasio lancar perusahaan jauh di bawah rata-rata industri, maka harus ada evaluasi dari manajemen.

2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Apa itu rasio cepat (quick ratio)? Menurut Sherman (2015), quick ratio atau disebut juga acid test ratio adalah rasio keuangan yang mengukur kesanggupan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek dengan menggunakan aset lancar (current assets) yang paling likuid. Istilah likuid dapat mengacu pada aset yang mudah dikonversi menjadi uang tunai/kas dalam jangka pendek atau < 1 tahun.

Menurut Fabozzi & Drake (2009), rasio cepat memiliki pandangan likuiditas yang lebih konservatif daripada rasio lancar. Kenapa? Karena rasio cepat hanya menggunakan aset lancar yang paling likuid dan meninggalkan aset lancar yang paling tidak likuid, yaitu persediaan (inventories). Menurut Brigham & Houston (2013), persediaan atau inventories merupakan aset lancar yang paling lama dikonversi menjadi uang tunai karena sangat bergantung pada tingkat penjualan (sales).

Oleh karena itu, quick ratio juga dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek tanpa bergantung pada penjualan persediaan. Dengan demikian, formula atau cara menghitung rasio cepat yaitu dengan mengurangi persediaan dari aset lancar kemudian dibagi dengan utang jangka pendek. Berikut rumus quick ratio (Brigham & Houston, 2013).

QR = (CA – Inventories) / CL

Keterangan:

QR = quick ratio

CA = current assets

CL = current liabilities

Contoh Soal Rasio Cepat

Untuk contoh soal (kasus) rasio cepat (quick ratio), invesnesia akan tetap menggunakan neraca (laporan posisi keuangan) dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Total Aset Lancar = 16.624.925
  • Total Inventories = 3.840.690
  • Total Liabilitas Jangka Pendek = 6.556.359

Jawab:

  • Quick Ratio = (16.624.925 – 3.840.690) / 6.556.359
  • Quick Ratio = 12.784.235 / 6.556.359
  • Quick Ratio = 1,95 atau digenapkan menjadi 2 kali (x)

Cara menginterpretasikan rasio cepat (quick ratio) serupa dengan rasio lancar. Nilai rasio 2 kali (x) artinya aset lancar paling likuid dari Indofood memiliki nilai 2 kali lebih banyak daripada utang jangka pendeknya. Secara persentase, quick ratio Indofood bernilai 200%. Kemudian, cara analisis quick ratio juga dapat dilakukan dengan perbandingan terhadap rata-rata industri (industry average), serupa dengan cara analisis current ratio.

Simpulan

Pada intinya, rasio likuiditas adalah alat ukur kemampuan perusahaan dalam melunasi utang jangka pendeknya. Cara analisis rasio likuiditas dapat menggunakan rasio lancar (current ratio) atau rasio cepat (quick ratio). Namun, untuk memberikan gambaran yang lebih kuat terkait posisi likuiditas perusahaan, rasio cepat lebih tepat untuk digunakan. Nah, itulah penjelasan lengkap tentang rasio likuiditas. Semoga makalah ini bisa menjadi referensi terbaik dalam memahami rasio keuangan perusahaan.

Referensi

Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2013). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Mason: South-Western Cengage Learning.

Fabozzi, F. J., & Drake, P. P. (2009). Capital Markets, Financial Management, and Investment Management. Hoboken: Wiley.

Horne, J. C. V., & Wachowicz Jr, J. M. (2009). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Harlow: Pearson Education Limited.

Sherman, E. H. (2015). A Manager’s Guide to Financial Analysis (6th ed.). New York City: American Management Association.

Wahlen, J., Baginski, S., & Bradshaw, M. (2015). Financial Reporting, Financial Statement Analysis and Valuation (8th ed.). Boston: Cengage Learning.

www.idx.co.id

Penting: Mohon mencantumkan sumber invesnesia.com jika mengutip isi artikel.

Tag: rasio likuiditas; current ratio; quick ratio.

error: Content is protected !!