Definisi Rasio Profitabilitas: Jenis, Rumus, Analisis, Contoh Soal

Salah satu jenis rasio keuangan yang paling diperhatikan oleh investor yaitu rasio profitabilitas (profitability ratios). Kenapa demikian? Karena rasio profitabilitas adalah ukuran untuk melihat kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dan laba bersih. Tentu saja, investor berkepentingan untuk memperoleh dividen, dan hanya perusahaan profitable yang mampu membayarkan dividen. Meskipun semua jenis rasio keuangan sangat penting, namun rasio profitabilitas biasanya menjadi fokus utama dari investor.

Sebagai informasi, ada lima (5) jenis rasio keuangan (financial ratios) yang umum digunakan untuk mengukur kinerja suatu perusahaan, yaitu sebagai berikut.

  1. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratios)
  2. Rasio Aktivitas (Activity Ratios)
  3. Rasio Utang (Financial Leverage Ratios)
  4. Rasio Profitabilitas (Profitability Ratios)
  5. Rasio Pasar (Market Value Ratios)

Kelima jenis rasio keuangan tersebut mengukur kinerja perusahaan dari berbagai perspektif. Pada kesempatan ini, invesnesia akan menyajikan materi lengkap atau makalah rasio profitabilitas (profitability ratios). Pembahasan akan dimulai dengan definisi rasio profitabilitas, fungsi rasio profitabilitas, macam-macam rasio profitabilitas, rumus, contoh soal, cara menginterpretasi, dan cara menganalisis rasio profitabilitas.

Pengertian Rasio Profitabilitas

Gambar Rasio Profitabilitas

Menurut Sherman (2015), rasio profitabilitas atau profitability ratios adalah suatu ukuran untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari aktivitas penjualan (sales) atau aktivitas investasi (investment). Rasio profitabilitas, disebut juga rasio rentabilitas, merupakan salah satu jenis rasio keuangan yang sangat penting bagi investor karena secara langsung memberikan informasi terkait kinerja keuangan suatu perusahaan. Dengan demikian, investor dapat melihat bagaimana bagaimana prospek bisnis perusahaan di masa depan.

Baca juga: Apa Itu Cash Flow

Fungsi & Tujuan Rasio Profitabilitas

Secara umum, fungsi dan tujuan rasio profitabilitas yaitu untuk menilai kinerja perusahaan dalam menghasilkan pendapatan dan laba bersih. Tujuan utama dari bisnis adalah keuntungan. Rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas ini berfungsi untuk melihat histori keuntungan perusahaan dari waktu ke waktu. Semakin tinggi nilai rasio profitabilitas, semakin baik kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (laba).

Jenis Rasio Profitabilitas

Sama seperti jenis rasio keuangan lainnya, rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas ini juga terdiri dari berbagai macam. Beberapa para ahli memiliki pandangan yang berbeda. Sebagai contoh, Fabozzi & Drake (2009) mengelompokkan profitability ratios menjadi tiga (3) bagian, yaitu sebagai berikut.

  1. Gross Profit Margin (GPM)
  2. Operating Profit Margin (OPM)
  3. Net Profit Margin (NPM)

Sedangkan Brigham & Houston (2013) mengelompokkan rasio profitabilitas ke dalam lima (5) bagian, yaitu sebagai berikut.

  1. Operating Margin atau OPM
  2. Profit Margin atau NPM
  3. Basic Earning Power (BEP)
  4. Return on Assets (ROA)
  5. Return on Equity (ROE)

Agar kamu memiliki referensi dan wawasan yang lebih banyak, invesnesia akan merangkum macam-macam rasio profitabilitas menurut para ahli tersebut dan menjabarkannya ke dalam enam (6) bagian, yaitu sebagai berikut.

  1. Basic Earning Power (BEP)
  2. Return on Assets (ROA)
  3. Return on Equity (ROE)
  4. Gross Profit Margin (GPM)
  5. Operating Profit Margin (OPM)
  6. Net Profit Margin (NPM)

Untuk setiap jenis rasio profitabilitas, invesnesia akan menyajian mulai dari definisi, rumus, contoh soal, cara menginterpretasikan, dan cara menganalisisnya.

1. Basic Earning Power (BEP)

Sebenarnya, rasio keuangan basic earning power (BEP) tidak begitu populer digunakan karena konsepnya tidak jauh berbeda dari return on assets (ROA), yaitu sama-sama menggunakan penyebut berupa total aset (total assets). Perbedannya terletak pada pembilang yang mana BEP menggunakan earnings before interest and taxes (EBIT) sedangkan ROA menggunakan earnings after taxes (EAT). Rumus atau cara menghitung BEP yaitu sebagai berikut.

BEP = (EBIT / Total Assets) x 100%

Umumnya, investor cenderung lebih suka menggunakan ROA dibandingkan BEP. Oleh karena itu, untuk contoh soal dan cara menginterpretasikan, lebih baik langsung saja memahami rasio ROA.

2. Return on Assets (ROA)

Menurut Sherman (2015), pengertian return on assets (ROA) adalah suatu ukuran untuk melihat kemampuan perusahaan dalam mengelola aset perusahaan untuk meraih keuntungan (profit). Horne & Wachowicz (2009) menyebut ROA dengan istilah return on investment (ROI), yaitu mengukur kinerja perusahaan dalam meraih laba dari aset yang dimiliki. Rumus atau cara menghitung ROA atau ROI yaitu dengan membandingkan nilai laba bersih (net income) dengan total aset (assets) perusahaan. Istilah laba bersih (net income) juga dapat mengacu pada earnings after taxes (EAT).

ROA = (Net Income / Total Assets) x 100%

Contoh Soal Return on Assets

Sebagai contoh soal, invesnesia akan menggunakan sampel salah satu perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Data atau laporan keuangan yang digunakan yaitu per Desember 2019 (dalam ribuan rupiah).

Diketahui:

  • Laba Bersih atau Net Income = 193.852.031
  • Total Assets = 30.194.907.730

Jawab:

  • Return on Assets (ROA) = (193.852.031 / 30.194.907.730) x 100%
  • Return on Assets (ROA) = 0,0064 x 100%
  • Return on Assets (ROA) = 0,64%

Selain PT Aneka Tambang Tbk, invesnesia akan memberikan sampel lainnya, yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Data atau laporan keuangan yang digunakan per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Laba Bersih atau Net Income = 4.040.394
  • Total Assets = 26.098.052

Jawab:

  • Return on Assets (ROA) = (4.040.394 / 26.098.052) x 100%
  • Return on Assets (ROA) = 0,1548 x 100%
  • Return on Assets (ROA) = 15,48%

Cara Menginterpretasikan Return on Assets

Nilai return on assets perusahaan sudah diketahui: ANTM memiliki ROA sebesar 0,64% sedangkan nilai ROA dari PTBA yaitu 15,48%. Bagaimana cara menginterpretasikan ROA? Jadi, nilai ROA tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan ANTM dan PTBA dalam mengelola aset untuk meraih keuntungan yaitu masing-masingnya 0,64% dan 15,48%. Semakin tinggi nilai ROA, semakin bagus kinerja perusahaan dalam mengelola aset untuk meraih pendapatan bersih, begitu sebaliknya. Jika dilihat perbandingan secara sekilas, ROA dari PTBA jauh lebih baik daripada ANTM.

3. Return on Equity (ROE)

Menurut Sherman (2015), pengertian return on equity (ROE) adalah suatu ukuran untuk melihat kinerja perusahaan dalam mengelola modal pemegang saham (owner’s equity atau total equity) untuk meraih keuntungan (profit). Rumus atau formula untuk menghitung nilai ROE yaitu dengan membandingkan nilai laba bersih (net income) dengan total ekuitas (total equity) perusahaan.

ROE = (Net Income / Total Equity) x 100%

Contoh Soal Return on Equity

Untuk contoh soal, invesnesia masih menggunakan sampel PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan data keuangan per Desember 2019 (dalam ribuan rupiah).

Diketahui:

  • Laba Bersih atau Net Income = 193.852.031
  • Total Equity = 18.133.419.175

Jawab:

  • Return on Equity (ROE) = (193.852.031 / 18.133.419.175) x 100%
  • Return on Equity (ROE) = 0,0107 x 100%
  • Return on Equity (ROE) = 1,07%

Contoh sampel lainnya yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan data keuangan per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Laba Bersih atau Net Income = 4.040.394
  • Total Equity = 422.826

Jawab:

  • Return on Equity (ROE) = (4.040.394 / 18.422.826) x 100%
  • Return on Equity (ROE) = 0,2193 x 100%
  • Return on Equity (ROE) = 21,93%

Cara Menginterpretasikan Return on Equity

Nilai return on equity perusahaan telah diketahui: ANTM memiliki ROE 1,07% sedangkan ROE dari PTBA yaitu 21,93%. Cara menginterpretasikan ROE yaitu kemampuan ANTM dan PTBA dalam mengelola modal pemilik (ekuitas) perusahaan untuk meraih keuntungan yaitu masing-masingnya 1,07% dan 21,93%. Semakin tinggi nilai ROE, semakin baik kinerja perusahaan dalam mengelola ekuitas untuk meraih pendapatan bersih, begitu sebaliknya. Jika dibandingkan, nilai ROE dari PTBA jauh lebih baik daripada ANTM.

The Profit Margin Ratios

Menurut Fabozzi & Drake (2009), rasio margin laba atau profit margin ratios yaitu membandingkan komponen pendapatan dengan penjualan. Rasio margin laba memberi gambaran kepada investor tentang faktor mana yang membentuk pendapatan perusahaan dan biasanya dinyatakan sebagai bagian dari setiap rupiah penjualan. Sebagai contoh, rasio margin laba yang akan dibahas hanya berbeda pada sis pembilangnya. Di dalam pembilangnya, kamu bisa mengevaluasi kinerja untuk berbagai aspek bisnis.  Berikut daftar profit margin ratios:

  • Gross Profit Margin (GPM)
  • Operating Profit Margin (OPM)
  • Net Profit Margin (NPM)

4. Gross Profit Margin (GPM)

Rasio margin laba kotor (gross profit margin) adalah rasio keuangan yang membandingkan laba kotor (gross profit) dengan pendapatan (revenues) perusahaan. Laba kotor atau laba bruto dihasilkan dari pengurangan antara pendapatan (revenues) dan harga pokok penjualan (cost of goods sold). Berikut rumus atau formula mencari nilai rasio gross profit margin (GPM).

GPM = [(RevenuesCost of Goods Sold) / Revenues] x 100%

Contoh Soal Gross Profit Margin (GPM)

Untuk contoh soal gross profit margin, sampel yang digunakan yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan data keuangan per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Revenue = 21.787.564
  • Cost of Goods Sold (COGS) = 14.176.060

Jawab:

  • Gross Profit Margin (GPM) = [(21.787.564 – 14.176.060) / 21.787.564] x 100%
  • Gross Profit Margin (GPM) = [7.611.504 / 21.787.564] x 100%
  • Gross Profit Margin (GPM) = 34,94% dibulatkan menjadi 35%

Cara Menginterpretasikan Gross Profit Margin (GPM)

Setelah mengetahui nilai rasio gross profit margin (GPM) PTBA yaitu sebesar 35%, lalu bagaimana cara menginterpretasikannya? Jadi, PTBA mampu menghasilkan 35% laba kotor dari total pendapatan atau penjualan yang diperoleh. Rasio GPM juga menunjukkan setiap penjualan (sales) yang tersisa setelah dikurangi biaya produksi. Semakin tinggi nilai GPM, semakin kecil biaya produksi yang dikeluarkan, artinya semakin efisien perusahaan dalam menekan biaya produksi.

  • Note: Istilah pendapatan (revenues) dan penjualan (sales) merupakan hal yang sama. Di dalam laporan keuangan perusahaan Tbk, beberapa perusahaan menggunakan salah satu dari kedua istilah tersebut. Jika perusahaan menggunakan istilah revenues, biasanya biaya produksi akan disebut sebagai cost of revenues atau beban pokok pendapatan. Sedangkan jika perusahaan menggunakan istilah penjualan (sales), maka biaya produksi akan disebut sebagai cost of goods sold atau beban pokok penjualan.

5. Operating Profit Margin (OPM)

Rasio margin laba operasi (operating profit margin) adalah rasio keuangan yang membandingkan laba operasi (operating profit) dengan total pendapatan (revenues) perusahaan. Istilah lain dari laba operasi yaitu earnings before interest and taxes (EBIT), yang diperoleh dari pendapatan dikurangi biaya produksi dan beban operasi. Berikut rumus atau formula untuk mencari nilai rasio operating profit margin (GPM).

OPM = [(RevenuesCost of Goods SoldOperating Expenses) / Revenues] x 100%

Jika disederhanakan, maka rumusnya seperti ini:

OPM = (EBIT / Revenues) x 100%

Contoh Soal Operating Profit Margin (OPM)

Berikut data keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Revenue = 21.787.564
  • Cost of Goods Sold (COGS) = 14.176.060
  • Operating Expenses = 2.597.149
  • Operating Profit atau EBIT = (21.787.564 – 14.176.060 – 2.597.149) = 5.014.355

Jawab:

  • Operating Profit Margin (OPM) = (5.014.355 / 21.787.564) x 100%
  • Operating Profit Margin (OPM) = 23,02% dibulatkan menjadi 23%.

Cara Menginterpretasikan Operating Profit Margin (OPM)

Diketahui nilai rasio operating profit margin (OPM) PTBA yaitu sebesar 23%, bagaimana cara menginterpretasikannya? Jadi, PTBA mampu memperoleh laba operasi sebanyak 23% dari total penjualan yang dihasilkan perusahaan. Rasio OPM juga dapat memberikan informasi untuk setiap penjualan (sales) yang tersisa setelah dikurangi biaya produksi dan beban operasi. Semakin tinggi nilai OPM, semakin semakin mampu perusahaan meminimalkan biaya produksi dan beban operasi. OPM yang tinggi juga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menciptakan pendapatan yang signifikan.

Menurut Fabozzi & Drake (2009), ada beberapa faktor yang memengaruhi nilai margin laba kotor perusahaan, yaitu sebagai berikut.

  • Perubahan volume penjualan, yang memengaruhi harga pokok penjualan dan penjualan.
  • Perubahan harga jual, yang memmengaruhi pendapatan.
  • Perubahan harga pokok produksi, yang memengaruhi harga pokok penjualan.

6. Net Profit Margin (NPM)

Rasio margin laba bersih (net profit margin) adalah rasio keuangan yang membandingkan pendapatan bersih (net income) dengan total pendapatan (revenues) perusahaan. Di dalam laporan keuangan perusahaan Tbk di BEI, istilah yang digunakan untuk pendapatan bersih (net income) yaitu laba tahun berjalan (profit for the year). Sebutan lainnya untuk pendapatan bersih atau laba tahun berjalan yaitu earnings after taxes (EAT), juga memiliki makna yang sama. Nah, berikut rumus dan cara menghitung rasio net profit margin (NPM).

NPM = (Net Income / Revenues) x 100%

Contoh Soal Net Profit Margin (NPM)

Berikut data keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) periode Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Net Income = 4.040.394
  • Revenue = 21.787.564

Jawab:

  • Net Profit Margin (NPM) = (4.040.394 / 21.787.564) x 100%
  • Net Profit Margin (NPM) = 18,54% atau dibulatkan menjadi 19%.

Cara Menginterpretasikan Net Profit Margin (NPM)

Diketahui nilai rasio net profit margin (NPM) PTBA yaitu sebesar 19%. Cara menginterpretasikan NPM yaitu bahwa dari total penjualan (sales) atau total pendapatan (revenues) yang dihasilkan, PTBA mampu meraih laba bersih (net income) sebesar 19%. Dengan kata lain, setiap satu rupiah yang diperoleh dari penjualan, PTBA akan menghasilkan laba bersih sebesar 19 sen atau 19%. Semakin tinggi rasio NPM, semakin baik kinerja PTBA dalam menghasilkan laba bersih dari total penjualan/pendapatan.

Cara Menganalisis Rasio Profitabilitas

Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk menganalisis rasio profitabilitas suatu perusahaan. Hanya saja, metode yang umum digunakan yaitu analisis perbandingan industri (industry comparison). Analisis ini berfokus untuk membandingkan nilai rasio profitabilitas suatu perusahaan yang dijadikan sampel, dengan nilai rata-rata industri. Sebagai contoh, anggaplah sampel yang digunakan yaitu PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Sebagaimana yang diketahui, PTBA adalah perusahaan yang bergerak di sektor industri pertambangan (mining) di Bursa Efek Indonesia. Nah, untuk melihat kinerja profitabilitas PTBA, maka kamu bisa membandingkan setiap rasio profitabilitas PTBA dengan nilai rata-rata industri pertambangan. Sebagai contoh, diketahui nilai ROA PTBA yaitu 15,48%. Apakah rasio ROA PTBA sudah bagus (ideal)? Untuk mengetahuinya, kamu bisa melihat rata-rata nilai ROA industri pertambangan.

Cara mencari nilai rata-rata industri, misalnya untuk rasio ROA, kamu tinggal mencari nilai ROA setiap perusahaan di sektor pertambangan. Lalu, jumlahkan semua nilai ROA tersebut kemudian dibagi dengan jumlah perusahaan di sektor pertambangan. Anggaplah nilai rata-rata ROA industri pertambangan 12%. Artinya, ROA PTBA berada di atas rata-rata industri, yang mengindikasikan kinerja PTBA dalam mengelola aset untuk meraih laba bersih (profit) lebih baik dari rata-rata industri. Kamu bisa melakukan hal yang sama untuk jenis rasio profitabilitas lainnya.

Simpulan

Jadi, rasio profitabilitas adalah salah satu jenis rasio keuangan yang berfungsi untuk melihat kinerja perusahaan dalam mengelola aset untuk meraih keuntungan. Dari berbagai macam rasio profitabilitas, kamu sebagai investor atau analis bisa menggunakannya sesuai kebutuhan. Intinya, semakin tinggi nilai rasio profitabilitas perusahaan, menandakan hal yang positif, begitu sebaliknya. Inilah pembahasan makalah rasio profitabilitas yang dapat invesnesia sajikan. Semoga bermanfaat dan bisamenambah referensi kamu, ya.

Referensi

Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2013). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Mason: South-Western Cengage Learning.

Fabozzi, F. J., & Drake, P. P. (2009). Capital Markets, Financial Management, and Investment Management. Hoboken: Wiley.

Horne, J. C. V., & Wachowicz Jr, J. M. (2009). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Harlow: Pearson Education Limited.

Sherman, E. H. (2015). A Manager’s Guide to Financial Analysis (6th ed.). New York City: American Management Association.

Penting: Mohon mencantumkan sumber invesnesia.com jika mengutip isi artikel.

Tag: rasio profitabilitas, ROA, ROE, GPM, OPM, dan NPM.

error: Content is protected !!