Return on Assets (ROA): Rumus, Analisis dan Interpretasi

Bagi investor, return on asset (ROA) atau juga dapat disebut return on investment (ROI), merupakan salah satu elemen rasio keuangan yang sangat diperhatikan. Kenapa? Karena rasio ROA adalah metrik yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola aset untuk meraih laba usaha. Melalui ROA, investor akan terlihat apakah prospek perusahaan ke depan masih baik atau tidak.

Perlu Anda ketahui, return on asset adalah salah satu jenis rasio profitabilitas, selain daripada return on equity (ROE), GPM, OPM, NPM, dan BEP. Semua rasio profitabilitas penting untuk dipertimbangkan dalam mengambil keputusan strategis. Namun, ROE dan ROA adalah rasio keuangan yang paling umum digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dalam menghasilkan profit.

Artikel ini akan menyajikan apa itu return on asset (ROA) dengan pembahasan yang lengkap dan terstruktur. Apa saja yang akan dibahas? Mulai dari definisi ROA, fungsi & tujuan ROA, rumus ROA, contoh soal ROA, cara interpretasi ROA, dan cara analisis ROA. Dengan memahami semua materi itu, kamu nantinya akan mampu menilai berapa nilai ROA yang baik.

Pengertian Return on Assets (ROA)

gambar return on assets atau ROA

Apa itu return on asset dan bagaimana rumus ROA? Rasio ROA adalah suatu ukuran untuk menilai seberapa efisien perusahaan dalam memanfaatkan aset yang dimiliki untuk mendapatkan sejumlah laba. Sedangkan pengertian ROA menurut para ahli yaitu rasio keuangan yang mengukur kemampuan manajemen perusahaan untuk mendapatkan pengembalian (return) atas penggunaan aset perusahaan (Sherman, 2015). Dengan kata lain, return on asset adalah cerminan dari kinerja aset perusahaan.

Perbedaan ROA dan ROE terletak pada ‘penyebut’. ROA adalah ukuran yang menggunakan total aset sebagai indikator penilaian kinerja manajemen perusahaan, sedangkan ROE menggunakan total ekuitas. Menurut Schmidlin (2014), kelebihan return on asset (ROA) dibandingkan return on equity (ROE) yaitu ROA tidak terdistorsi oleh pengaruh finansial yang menunjukkan pengembalian semua pemangku kepentingan.

Serupa dengan return on equity (ROE), rasio ROA adalah metrik yang juga menyatukan neraca dan laporan laba rugi yang mana laba bersih perusahaan dibandingkan dengan total aset. Angka tersebut akan mewakili total pengembalian aset dan menunjukkan kinerja perusahaan untuk mengubah investasi aset menjadi profit. Dengan kata lain, return on asset adalah indikator untuk mengukur laba yang dihasilkan untuk setiap rupiah dari aset perusahaan.

Fungsi & Tujuan Return on Asset (ROA)

Secara umum, fungsi dan tujuan return on asset (ROA) tidak jauh berbeda dari return on equity (ROE), tetapi ada beberapa perbedaan, yaitu:

  • Return on Assets (ROA) dapat berfungsi sebagai alat analisis untuk menilai efisiensi penggunaan semua aset perusahaan untuk kebutuhan produksi dan/atau penjualan.
  • Return on Assets (ROA) berfungsi sebagai pertimbangan bagi investor dalam menilai kemampuan perusahaan dalam mengonversi aset menjadi profit atau keuntungan.
  • Return on Assets (ROA) berfungsi sebagai indikator keberhasilan manajemen perusahaan dalam pemanfaatan aset untuk meraih laba bersih.
  • Return on Assets (ROA) dapat dijadikan sebagai ukuran apakah perusahaan memiliki prospek bisnis yang baik di masa depan atau tidak.
  • Return on Assets (ROA) dapat menjadi cerminan kinerja profitabilitas manajemen perusahaan dibandingkan dengan pencapaian profitabilitas perusahaan lainnya.

Rumus Return on Asset (ROA)

Menurut Brigham & Houston (2013), cara menghitung ROA adalah dengan membandingkan laba bersih (net income) dengan total aset (total assets) perusahaan. Istilah lain dari net income yaitu earnings after taxes (EAT) atau laba tahun berjalan (profit for the period).

Menurut para ahli (Brigham & Houston, 2013), rumus return on asset adalah ROA = (Laba Bersih / Total Aset) x 100%.

Rumus ROA = (Net Income / Total Assets) x 100%

Contoh Soal Return on Asset (ROA)

Untuk contoh kasus, kita akan menggunakan sampel PT Kimia Farma Tbk (KAEF), yang merupakan salah satu perusahaaan go public di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kimia Farma secara khusus bergerak di sektor industri barang konsumsi dengan subsektor farmasi. Untuk menghitung nilai ROA Kimia Farma, kita akan menggunakan data keuangan terbaru per 31 Desember 2019 (dalam ribuan rupiah).

Diketahui:

  • Laba Bersih = Rp890.439,-
  • Total Aset = Rp18.352.877.132,-

Jawab:

  • Return on Asset (ROA) = (Rp890.439,- / Rp18.352.877.132,-) x 100%
  • Return on Asset (ROA) = 0,09%

Cara Interpretasi Return on Asset (ROA)

Setelah diketahui bahwa rasio ROA dari PT Kimia Farma Tbk tahun 2019 yaitu 0,09%. Bagaimana cara interpretasi rasio ROA? Jadi, PT Kimia Farma Tbk mampu menghasilkan laba bersih (net income) sebesar 0,09% dari total aset yang dimiliki perusahaan. Dengan kata lain, setiap satu rupiah dari aset perusahaan mampu menghasilkan laba bersih sebanyak 0,09%. Semakin tinggi nilai ROA, semakin optimal kinerja perusahaan dalam pemanfaatan aset untuk meraih laba bersih. Vice versa.

Cara Analisis Return on Assets (ROA)

Lalu, bagaimana cara analisis rasio return on assets (ROA) perusahaan? Menurut Sherman (2015), ada tiga cara menganalisis rasio keuangan perusaahaan, yaitu dengan (1) Intracompany Analysis, (2) Trend Analysis, dan (3) Industry Comparison.

Secara ringkas, (1) intracompany analysis merupakan metode untuk membandingkan antar nilai rasio keuangan perusahaan. Sebagai contoh, nilai rasio ROA dibandingkan dengan ROE, atau ROA dengan DER, dan seterusnya. (2) Trend analysis merupakan metode untuk melihat nilai rasio keuangan perusahaan selama periode tertentu, misalnya periode lima tahun, dari 2015 – 2019. Dengan demikian, kamu bisa menilai apakah ROA perusahaan cenderung meningkat, stagnan, atau tren menurun selama periode lima tahun tersebut.

Cara analisis rasio keuangan dengan (3) industry comparison yaitu berfokus dengan membandingkan rasio ROA perusahaan dengan rasio ROE rata-rata industri. Misalnya, rasio ROA PT Kimia Farma Tbk pada 2019 yaitu 0,09%. Sedangkan nilai ROA rata-rata sektor industri barang konsumsi (subsektor farmasi) misalnya 2%.

Dengan demikian, rasio ROA dari PT Kimia Farma Tbk berada di bawah rata-rata industri, yang mengindikasikan nilai yang kurang baik. Kenapa? Rasio ROA yang bagus (ideal) adalah yang lebih tinggi dari nilai rata-rata ROA industri. Semakin tinggi ROA perusahaan, mengindikasikan nilai yang positif. Bagaimana jika nilai ROA negatif? Artinya perusahaan tidak memperoleh laba bersih, melainkan rugi.

Pandangan Akhir

Jadi, return on asset adalah rasio keuangan yang dapat memberikan penilaian terkait kinerja aset perusahaan dalam menghasilkan laba bersih. Rasio ROA positif dan tinggi menunjukkan nilai yang baik. Sebaliknya, rasio ROA negatif mengindikasikan ketidakmampuan perusahaan memanfaatkan aset untuk menghasilkan laba. Rasio ROA adalah indikator penting untuk menganalisis kinerja dan prospek perusahaan ke depan. Oleh karena itu, investor saham penting memahami rumus ROA dan cara analisis serta interpretasi yang benar. Nilai ROA yang baik adalah yang berada di atas rata-rata industri.

Referensi

Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2013). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Mason: South-Western Cengage Learning.

Fabozzi, F. J., & Drake, P. P. (2009). Capital Markets, Financial Management, and Investment Management. Hoboken: Wiley.

Horne, J. C. V., & Wachowicz Jr, J. M. (2009). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Harlow: Pearson Education Limited.

Schmidlin, N. (2014). The Art of Company Valuation and Financial Statement Analysis. Hoboken: Wiley.

Sherman, E. H. (2015). A Manager’s Guide to Financial Analysis (6th ed.). New York City: American Management Association.

Penting: Mohon mencantumkan sumber invesnesia.com jika mengutip isi artikel.

Tag: definisi return on asset, apa itu ROA, rumus ROA dan cara menghitung ROA, nilai ROA yang baik.