Non Performing Loan, Rasio NPL Adalah – Cara Analisis & Interpretasi

Non performing loan atau rasio NPL adalah salah satu jenis rasio keuangan yang sangat penting khususnya bagi investor dalam menganalisis kesehatan bank. Dalam bahasa sederhana, istilah NPL dapat mengacu pada kredit macet atau kredit bermasalah. Rasio NPL akan membandingkan total kredit tidak lancar dengan total kredit bank secara keseluruhan. Untuk lebih jelas, berikut materi atau makalah tentang non performing loan (NPL), mulai dari membahas pengertian NPL, fungsi NPL, rumus & cara menghitung NPL, contoh kasus NPL, cara interpretasi NPL, dan cara analisis rasio NPL bank.

Definisi Non Performing Loan (NPL)

Non Performing Loan atau NPL

Ada banyak sekali pengertian non performing loan menunut para ahli. Namun secara umum, definisi rasio NPL adalah rasio keuangan bank yang menunjukkan persentase pinjaman bermasalah dari total kredit yang disalurkan bank. Semakin tinggi non performing loan bank, semakin tinggi tunggakan kredit yang berdampak pada menurunnya pendapatan bunga bank. Sebaliknya, semakin kecil NPL bank, semakin baik kinerja bank dalam mengelola risiko kredit macet.

Kolektabilitas Kredit (Skor Kredit)

Jika berbicara tentang rasio NPL bank, itu mengarah pada performa kredit. Sebagaimana diketahui, NPL adalah rasio yang menunjukkan persentase kredit macet dari bank. Kredit macet merupakan salah satu jenis kolektabilitas kredit (skor kredit) – yaitu kondisi pembayaran angsuran nasabah (utang pokok + bunga) dan kemungkinan diterima kembali dana tersebut. Untuk mengecek histori kredit nasabah, dapat ditunjukkan melalui sistem layanan informasi keuangan atau SLIK. Tingkatan skor kredit melalui SLIK didasarkan pada kemampuan debitur untuk membayar angsuran yang kemudian disebut kolektabilitas kredit.

Berikut lima (5) kolektibilitas kredit berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum:

  • Kolektibilitas 1: Kredit Lancar – debitur membayar angsuran (pokok dan bunga) tepat waktu. Perkembangan rekening debitur baik, tidak ada tunggakan, dan telah memenuhi persyaratan kredit.
  • Kolektibilitas 2: Kredit Dalam Perhatian Khusus – debitur menunggak pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga dalam periode 1 – 90 hari.
  • Kolektibilitas 3: Kredit Kurang Lancar – debitur menunggak pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga dalam periode 91 – 120 hari.
  • Kolektibilitas 4: Kredit Diragukan – debitur menunggak pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga dalam periode 121 – 180 hari.
  • Kolektibilitas 5: Kredit Macet – debitur menunggak pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga lebih dari 180 hari.

Dapat Anda lihat bahwa Kredit Macet masuk ke dalam kolektabilitas 5  yang artinya debitur atau nasabah tidak membayar angsuran (pokok + bunga) selama lebih dari 180 hari. Dalam hal ini, kredit macet atau kredit tidak tertagih akan menjadi kerugian bagi bank karena hilangnya peluang untuk menghasilkan pendapatan bunga.

Ketentuan NPL Menurut Peraturan Bank Indonesia

Ketenentuan terkait batas NPL bank sebenarnya sudah diatur oleh Bank Indonesia (BI) melalui Peraturan Bank Indonesia No. 17/11/PBI/2015 tanggal 25 Juni 2015. Yang dimaksud dengan rasio non performing loan Total Kredit, yang kemudian disingkat rasio NPL Total Kredit adalah rasio antara jumlah Total Kredit bank dengan kualitas “kurang lancar, diragukan, dan macet”, terhadap Total Kredit. Dalam hal ini, batas NPL Total Kredit bank yaitu kurang dari 5%, tidak boleh lebih.

NPL Total Kredit dapat juga disebut NPL gross yaitu membandingkan total kredit dengan status (kurang lancar, diragukan, dan macet) dengan total kredit bank. Sedangkan untuk NPL net adalah rasio yang membandingkan total kredit berstatus “macet” terhadap total kredit bank. NPL bank yang “sangat sehat” biasanya berada di bawah 2%, sedangkan NPL bank yang “sehat” berada di kisaran 2 – 5%. Bank harus tetap menjaga nilai rasio NPL paling tidak di bawah 5% agar risiko bisnis tidak membengkak. Dalam hal ini, jika bank memiliki rasio NPL lebih dari 5%, Bank Indonesia (BI) akan melakukan pengawasan secara intensif terlebih jika ada potensi risiko yang membahayakan kelangsungan bisnis bank.

Fungsi Non Performing Loan (NPL)

Pada dasarnya, fungsi NPL adalah untuk mengetahui tingkat risiko kredit dari bank. Bank dengan rasio non performing loan di bawah 5% dapat dikatakan sehat. Namun, semakin kecil rasio NPL, semakin kecil potensi risiko bisnis bank. Dengan adanya rasio NPL, itu bisa dijadikan alat kontrol atau bahan evaluasi bank bank untuk tetap menjaga kegiatan bisnis. Contoh kasus terbaru misalnya, seperti virus corona (Covid-19) melanda dunia. Dampak yang dihasilkan dari Covid-19 tersebut yaitu melumpuhkan aktivitas perekonomian, sehingga nasabah (debitur) juga kesulitan dalam membayar kewajiban (utang). Kondisi seperti ini secara eksplisit meningkatkan risiko NPL bank. Nah, salah satu kebijakan atau solusi yang dapat diambil yaitu dengan melakukan restrukturisasi kredit.

Rumus Non Performing Loan (NPL)

Sebelumnya juga telah dibahas bahwa rasio NPL adalah rasio keuangan yang membandingkan jumlah kredit bermasalah dengan total kredit bank. Anda dapat menghitung NPL gross dan/atau NPL net. Berikut formula atau rumus NPL gross dan NPL net.

NPL Gross = (Total Kredit Kurang Lancar + Kredit Diragukan + Kredit Macet) / Total Kredit) x 100%

NPL Netto = (Total Kredit Macet / Total Kredit) x 100%

Pada intinya, bank yang sehat akan memiliki rasio NPL kecil dari 5%. Semakin kecil rasio NPL, semakin rendah risiko kredit bank.

Cara Interpretasi Non Performing Loan (NPL)

Bagaimana cara interpretasi rasio NPL bank? Sebagai contoh kasus, kami akan mengambil data sampel NPL netto dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tahun 2019, yaitu sebesar 1,2%. Artinya, dari total total kredit yang disalurkan oleh BNI, sebanyak 1,2% mengalami kredit macet. Sedangkan untuk NPL bruto BNI tahun 2019 yaitu sebesar 2,3%. Lalu, apakah rasio NPL BNI dapat dikatakan baik dan sehat? Berikut cara analisisnya.

Cara Analisis Non Performing Loan (NPL)

Setelah diketahui bahwa rasio NPL netto bank BNI yaitu sebesar 1,2% dan rasio NPL brutto 2,3%. Jika dianalisis secara sederhana, maka telah memenuhi persyaratan batas NPL bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI). Dengan demikian, risiko bisnis BNI dianggap kecil karena rasio NPL yang kurang dari 5%. Namun, Anda juga bisa menganalisis dengan menggunakan dua pendekatan lainnya, seperti (1) analisis tren dan (2) analisis perbandingan industri.

Singkatnya, analisis tren (trend analysis) yaitu mengevaluasi kinerja keuangan (dalam hal ini NPL) selama periode tertentu, misalnya lima (5) tahun terakhir. Berdasarkan data di dalam laporan tahunan (annual report) BNI, berikut data NPL bruto dan NPL netto BNI selama lima tahun terakhir.

  • Tahun 2019: Rasio NPL bruto 2,3% dan NPL netto 1,2%.
  • Tahun 2018: Rasio NPL bruto 1,9% dan NPL netto 0,8%.
  • Tahun 2017: Rasio NPL bruto 2,3% dan NPL netto 0,7%.
  • Tahun 2016: Rasio NPL bruto 3,0% dan NPL netto 0,4%.
  • Tahun 2015: Rasio NPL bruto 2,7% dan NPL netto 0,9%.

Berdasarkan data NPL bruto dan NPL netto PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) periode 2015 – 2019, maka dapat disimpulkan bahwa BNK mampu menjaga rasio NPL di bawah 5%, bahkan untuk NPL netto, BNI mampu menjaga level di bawah 1% selama empat tahun berturut-turut. Artinya, BNI mampu menjaga risiko kredit macet dengan baik.

Metode analisis selanjutnya yaitu analisis perbandingan industri (industry comparison). Analisis ini dilakukan dengan membandingkan rasio NPL suatu bank dengan NPL rata-rata industri. Sebagai contoh, rasio NPL net BNI tahun 2019 yaitu 2,3%. Untuk melihat kinerja NPL selama 2019, Anda cari berapa nilai rata-rata rasio NPL industri perbankan. Jika rasio NPL BNI berada di bawah rata-rata industri, itu mengin dikasikan bahwa performa rasio NPL BNI dapat dikatakan baik (positif).

Cara Menurunkan Rasio NPL Bank

Rasio NPL adalah rasio keuangan yang harus dikendalikan oleh perbankan agar tetap menjaga kesehatan bisnis. Dalam beberapa kasus, bank tidak mampu mengelola NPL dengan baik sehingga tidak sedikit rasio NPL yang melebihi 5%. Lalu, bagaimana cara menurunkan rasio NPL Bank? Ada banyak strategi yang dapat digunakan bank untuk meminimalkan risiko kredit macet. Salah satu kunci dari semua itu adalah dengan memperketat penyaluran kredit atau melakukan analisis kredit (credit analysis) dengan tepat sasaran.

Cara ini sebenarnya hampir semua bank melakukan namun tidak sedikit pula yang jebol alias terjadi kredit macet. Kami sendiri lebih senang dengan tindakan preventif, seperti halnya mencipatakan manajemen kredit yang baik. Namun, jika rasio NPL bank sudah terlanjur membengkak, maka harus dilakukan langkah represif, misalnya dengan melakukan tagihan (collection) kepada debitur. Namun sekali lagi, faktor yang paling penting untuk menurunkan rasio NPL bank adalah dengan melakukan tindakan preventif atau pencegahan, yaitu selektif dalam menyalurkan kredit. Jangan hanya bertumpu pada jumlah atau kuantitas kredit yang berhasil disalurkan, tetapi juga harus mempertimbangkan kualitas kredit.

Simpulan

Itulah materi atau makalah tentang non performing loan atau NPL yang disajikan secara lengkap. Dengan adanya informasi ini, diharapkan Anda dapat memahami dengan baik apa itu rasio NPL bank, berapa batas rasio NPL yang sehat, bagaimana cara menghitung atau rumus NPL, hingga cara menurunkan NPL bank. Pada dasarnya, rasio NPL adalah rasio keuangan penting untuk memastikan aktivitas penyaluran kredit bank dilakukan secara tepat. Rasio NPL adalah cerminan dari kesehatan sebuah bank.

error: Content is protected !!