Definisi Capital Adequacy Ratio (CAR) – Cara Analisis dan Interpretasi

Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) adalah salah satu jenis rasio keuangan untuk perusahaan keuangan (bank dan non bank), dan cukup familiat digunakan di dalam variabel penelitian. Pada dasarnya, analisis capital adequacy ratio (CAR) dapat digunakan oleh investor untuk melihat kecukupan dana perbankan dalam menghadapi risiko kerugian bisnis, mencakup risiko kredit, surat berharga, penyertaan, dan sebagainya. Pada artikel ini, kami akan memberikan materi atau makalah tentang capital adequacy ratio (CAR): mulai dari pengertian CAR, fungsi CAR, rumus & cara menghitung CAR, contoh soal CAR, cara analisis CAR, dan cara interpretasi CAR.

Definisi Capital Adequacy Ratio (CAR)

Gambar Capital Adequacy Ratio

Secara umum, teori atau pengertian capital adequacy ratio (CAR) adalah rasio keuangan yang menunjukkan seberapa baik kemampuan sebuah bank dalam menyediakan dana untuk mengatasi kemungkinan risiko kerugian bisnis. Rasio kecukupan modal akan menjelaskan kepada investor apakah perbankan sanggup menampung dan menutupi kerugian operasional dari equity yang tersedia. Semakin tinggi rasio CAR, semakin baik kondisi perbankan dalam menjamin risiko.

Ketentuan CAR Menurut Bank Indonesia (BI)

Berapa nilai capital adequacy ratio (CAR) yang ideal atau bagus? Sebenarnya, aturan terkait rasio CAR sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Berikut ketentuan CAR menurut Bank Indonesia (BI). Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) yang wajib dicapai oleh perbankan paling minimal 8 % (pada akhir 1995). Sedangkan pada akhir 1997, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) yang harus dicapai yaitu minimal 9%. Berhubung kondisi perbankan nasional sejak akhir 1997 terpuruk – ditandai dengan banyaknya likuidasi bank, sejak Oktober 1998 nilai Capital Adequacy Ratio (CAR) diklasifikasikan ke dalam tiga (3) kelompok.

(1) Klasifikasi A: Bank memiliki rasio CAR besar dari 4%, dapat dikategorikan sebagai bank sehat.

(2) Klasifikasi B: Bank memiliki rasio CAR -25% – 4%, dapat dikategorikan sebagai bank take over atau istilah lainnya bank dalam penyehatan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

(3) Klasifikasi C: Bank memiliki rasio CAR kecil dari -25%, dapat dikategorikan sebagai bank beku operaso (BBO) atau istilah lainnya bank yang dilikuidasi.

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/21/PBI/2001, nilai CAR perbankan saat ini yang harus dicapai minimal 8%. Hal ini serupa dengan ketentuan dari Bank for International Setlement (BIS) yang menetapkan minimal rasin CAR perbankan sebesar 8%. Sedangkan di dalam Asitektur Perbankan Indonesia (API), Bank Umum yang ingin untuk menjadi bank jangkar, setidaknya harus memiliki CAR minimal 12%.

Sebenarnya Awal ketentuan CAR yang dibuat oleh Bank for International Setlement (BIS) tidak mengikat, namun pada akhirnya hampir seluruh Bank Sentral di dunia mengikuti standar dari BIS, termasuk di Indonesia yang mana Bank Indonesia (BI) menerapkan aturan tersebut melalui PBI menjadi KPMM (Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum) yaitu sebesar 8%. Namun, secara bertahap akan disesuaikan dengan situasi perbankan di Indonesia dan perbankan Internasional.

Fungsi Capital Adequacy Ratio (CAR)

Sebagaimana yang juga telah dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan rasio capital adequacy ratio (CAR) yaitu untuk mengetahui seberapa baik perbankan dalam menutupi kerugian bisnis dengan modal yang dimiliki. Jika sebuah bank memiliki rasio CAR yang kecil dari ketentuan Bank Indonesia, maka investor harus waspada karena risiko likuidiasi atau kebangkrutan akan semakin besar. Rasio CAR adalah rasio keuangan yang sangat fundamental dan dapat menjadi pondasi bagi sebuah bank. Jika pondasi kokoh, maka risiko keruntuhan lebih kecil.

Rumus Capital Adequacy Ratio (CAR)

Permodalan menjadi faktor utama bagi bank untuk mengembangkan usahanya. Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk mengatasi kemungkinan risiko kerugian. Bank for International Settlements (BIS) menetapkan rasio modal minimum bank atau tingkat pemenuhan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 8%.

Rasio CAR penting karena menjaga CAR pada batas aman (minimal 8%) berarti melindungi nasabah dan menjaga stabilitas keseluruhan sistem keuangan. Rasio kecukupan modal dapat diperoleh dengan membagi total modal (total equity) dengan aset tertimbang menurut risiko (ATMR). Cara menghitung atau rumus capital adequacy ratio (CAR) adalah CAR = (Modal / ATMR) x 100%.

CAR = (Modal / ATMR) x 100%.

Semakin besar nilai modal (equity), semakin kuat pula kemampuan bank dalam menghadapi potensi risiko kerugian bisnis. Modal meliputi Modal Inti (Tier 1) dan Modal Pelengkap (Tier 2) – jumlah modal pelengkap yang diperhitungkan yaitu maksimal 100% dari jumlah Modal Inti. Jika risiko pasar dan risiko operasional dimasukkan, kedua risiko ini akan meningkatkan ATMR.

Contoh Soal Capital Adequacy Ratio (CAR)

Untuk contoh kasus atau soal, kami menggunakan data CAR tahun 2019 dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Sebenarnya, Anda tidak perlu mencari nilai CAR secara manual di dalam laporan keuangan perusahaan. Anda dapat download laporan tahunan (annual report) perusahaan di idx untuk melihat rasio CAR perbankan.

Perlu Anda ketahui, permodalan (capital) merupakan salah satu dari indikator Tingkat Kesehatan Bank (TKB). PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sendiri menetapkan empat (4) elemen atau faktor kesehatan bank, yaitu:

  1. Profil Risiko (Risk Profile) – penilaian secara inheren (risiko yang melekat pada aktivitas bisnis BNI) dan Kualitas Penerapan Manajemen Risiko atau KPMR.
  2. Tata Kelola (Good Corporate Governance) – penilaian terhadap kualitas manajemen BNI dalam pelaksanaan prinsip-prinsip GCG.
  3. Rentabilitas (Rentability) – penilaian dalam aspek penanaman modal atau hasil investasi.
  4. Permodalan (Capital) – penilaian berdasarkan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR).

Nah dalam hal ini, CAR merupakan elemen penting dalam menilai Tingkat Kesehatan Bank (TKB). Dalam kasus PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), pada periode 31 Desember 2019, rasio CAR BBNI berada pada peringkat 2 (Low to Moderate) yaitu sebesar 19,70%.

Cara Interpretasi Capital Adequacy Ratio (CAR)

Setelah capital adequacy ratio (CAR) bank BNI diketahui yaitu sebesar 19,70%, lalu bagaimana cara menginterpretasi rasio CAR tersebut? Pada intinya, semakin tinggi nilai CAR (berada di atas ketentuan minimum Bank Indonesia), semakin bagus jaminan bank terhadap risiko bisnis. Sebaliknya, bank harus berhati-hati jika kecukupan modal tidak memenuhi standar ketentuan 8% yang artinya potensi risiko likuidiasi semakin besar.

Cara Analisis Capital Adequacy Ratio (CAR)

Mungkin Anda bertanya-tanya, jika sebuah bank telah memenuhi persyaratan atau ketentuan minimal kecukupan modal dari Bank Indonesia, maka apa tidak perlu dianalisis lagi? Tidak benar. Analisis capital adequacy ratio (CAR) tetap harus dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan modal bank. Ada dua metode analisis yang dapat digunakan investor untuk menganalisis rasio keuangan (dalam hal ini CAR) sebuah perusahaan, yaitu dengan analisis tren dan analisis perbandingan industri.

Analisis tren atau trend analysis adalah membandingkan rasio keuangan perusahaan selama periode tertentu, misalnya dalam 5 tahun terakhir. Di sini, Anda dapat membandingkan bagaimana histori rasio CAR dari Bank BNI selama 5 tahun terakhir, apakah cenderung meningkat, menurun, atau stabil? Ingat, rasio kecukupan modal yang baik yaitu yang bernilai tinggi.

Selain itu, ada pula analisis perbandingan industri (industry comparison). Maksudnya, Anda dapat membandingkan rasio keuangan (dalam hal ini CAR) perusahaan dengan rasio CAR industri sektor perbankan. Jika rasio CAR suatu bank lebih tinggi dari rata-rata industri, itu mengindikasikan bahwa permodalan (capital) bank tersebut dinilai baik di sektornya. Begitupun sebaliknya. Jika rasio CAR suatu Bank berada di bawah rata-rata industri, maka ada baiknya Bank tersebut mengalukan evaluasi.

Simpulan

Well, itulah materi atau makalah tentang capital adequacy ratio (CAR). Pada dasarnya, rasio kecukupan modal sangat penting bagi perbankan untuk menjamin keselamatan bisnis dari kemungkinan risiko yang terjadi. Rasio CAR juga menjadi jaminan bagi investor untuk melihat kekokohan permodalan (capital) perbankan. Bank diharapkan tidak hanya memenuhi persyaratan ketentuan CAR saja, tetapi harus lebih dari itu agar dapat meminimalkan risiko likuidasi. Banyak yang bertanya, bagaimana pengaruh rasio CAR terhadap return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) sebagai bagian dari Gambar Capital Adequacy Ratio?

Pada dasarnya, ketika rasio CAR perbankan meningkat, maka akan menurunkan nilai ROA dan ROE. Kenapa demikian? Mengutip dosen.perbanas.id, rumus rasio CAR yaitu Modal dibagi ATMR dan dikalikan 100% = minimal 8%. Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) yang mempunyai bobot risiko paling tinggi yaitu kredit. Sedangkan kredit juga memberikan kontribusi pendapatan terbesar bagi sebuah bank. Dengan kata lain, jika kredit bank naik, maka pendapatan bank juga naik, artinya ROA dan atau ROE akan meningkat. Kredit yang meningkat akan menaikan total ATMR sehingga akan menurunkan capital adequacy ratio (CAR).

Lalu, bagaimana skema pada penelitian yang mengatakan bahwa ketika rasio CAR meningkat, ROA dan ROE juga meningkat? Nah dalam hal ini bisa saja terjadi, ketika aktiva lain (selain kredit), seperti aset tetap (fixed assets) dan aset lainnya yang memiliki bobot risiko 100% tidak memberikan kontribusi bagi pendapatan bank, maka kenaikan ATMR yang diakibatkan oleh kenaikan kelompok aset tersebut bisa menciptakan skema bahwa ketika rasio CAR naik, ROA dan ROE juga naik. Sebaliknya, jika rasio CAR turun, rasio ROA dan ROE juga turun – disebabkan karena penggunaan dana bank tidak menghasilkan pendapatan operasional bank. Itulah hubungan antara capital adequacy ratio (CAR) dengan ROA dan ROE.

error: Content is protected !!