Rasio Leverage: Definisi, Jenis, Rumus, Analisis, Contoh Soal

Istilah leverage selalu dikaitkan dengan liabilitas atau utang atau pinjaman. Lalu, apa itu rasio leverage? Jadi, rasio leverage merupakan salah satu jenis rasio keuangan, selain dari rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio nilai pasar. Secara umum, rasio leverage atau disebut juga rasio utang (debt ratios) atau rasio manajemen utang (debt management ratios) atau rasio solvabilitas adalah suatu ukuran untuk melihat bagaimana pendanaan aset dari utang, dan kemampuan perusahaan membayar utang. Untuk lebih jelas, berikut materi atau makalah rasio leverage dengan pembahasan sangat lengkap dan terstruktur.

Definisi Rasio Leverage

Gambar rasio leverage atau rasio manajemen utang

Menurut Fabozzi & Drake (2009), rasio leverage adalah jenis rasio keuangan yang digunakan untuk menilai seberapa besar risiko keuangan yang telah diambil perusahaan. Secara umum, rasio leverage berkaitan erat dengan penggunaan utang oleh perusahaan untuk kebutuhan operasional. Dengan kata lain, seberapa banyak aset perusahaan yang dibiayai oleh utang. Oleh karena itu, rasio leverage atau rasio solvabilitas ini akan menilai kemampuan perusahaan dalam menggunakan dan mengembalikan utang.

Menurut Sherman (2015) financial leverage adalah rasio utang yang digunakan untuk mengetahui perkembangan total utang (debt) perusahaan. Selain itu, rasio leverage juga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mambayar utang jangka panjang dan utang jangka pendek. Utang adalah suatu kewajiban yang didalamnya mengandung bunga dan pokok utang. Jika terjadi kegagalan pembayaran utang, maka dapat menyebabkan kebangkrutan bagi perusahaan.

Selain itu, Sherman (2015) juga menambahkan bahwa rasio leverage juga membahas tentang sensitivitas laba per saham terhadap perubahan laba sebelum bunga dan pajak sebagai akibat dari pembiayaan dari utang untuk ekuitas. Karena suku bunga biasanya tetap, sementara laba menurun dengan meningkatnya utang, laba per saham meningkat karena persentase utang yang lebih tinggi menghasilkan tingkat ekuitas yang lebih rendah. Akibatnya, perusahaan dengan utang yang lebih besar akan cenderung memiliki laba per saham yang lebih tidak stabil, semua hal lainnya dianggap sama.

Jenis Rasio Leverage

Rasio leverage atau rasio solvabilitas terdiri dari beberapa macam. Para ahli mengelompokkan rasio leverage secara berbeda. Namun, di sini invesnesia akan menyajikan jenis rasio leverage menurut Fabozzi & Drake (2009), yang terbagi menjadi lima (5) bagian, yaitu sebagai berikut.

  1. Debt to Asset Ratio (DAR)
  2. Debt to Equity Ratio (DER)
  3. Times-Interest-Earned Ratio (TIE)
  4. Fixed Charge Coverage Ratio
  5. Cash Flow Interest Coverage Ratio

Jika dikelompokkan berdasarkan satuan hitung, dari 5 jenis rasio leverage di atas, kemudian dibagi lagi menjadi dua (2) kelompok, yaitu rasio persentase (percentage ratios) dan rasio cakupan (coverage ratios). Untuk lebih mudah memahami, berikut pengelompokkannya.

  1. Percentage Ratios – perhitungannya dengan menggunakan persentase, terdiri dari:
  1. Coverage Ratios – perhitungannya dengan menggunakan satuan siklus/waktu, terdiri dari:
  • Times-Interest-Earned Ratio (TIE)
  • Fixed Charge Coverage Ratio
  • Cash Flow Interest Coverage Ratio

Untuk lebih jelas, berikut ulasan terkait definisi, rumus, cara menginterpretasi, dan cara analisis kelima macam rasio leverage tersebut.

1. Debt to Asset Ratio (DAR)

Menurut Fabozzi & Drake (2009), pengertian debt to asset ratio (DAR) adalah ukuran untuk melihat seberapa banyak aset (assets) perusahaan dibiayai oleh utang (debt). Selain itu, rasio DAR juga menunjukkan hubungan antara dana yang disediakan oleh pemegang saham perusahaan dengan kreditur sebagai pemberi utang (kredit). DAR dapat digunakan untuk mengukur tingkat keamanan utang relatif terhadap aset. Rumus atau cara menghitung debt to asset ratio (DAR) yaitu sebagai berikut.

DAR = Total Debt / Total Assets

Contoh Soal Debt to Asset Ratio (DAR)

Sebagai contoh soal untuk debt to asset ratio (DAR), invesnesia akan menggunakan data keuangan dari salah satu perusahaan Tbk yang telah melakukan go public & terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Perusahaan ini lebih dikenal sebagai Alfamart. Berikut data keuangan per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah) sebagai contoh kasus untuk menghitung nilai DAR perusahaan.

Diketahui:

  • Total Utang (Debt) = 17.108.006
  • Total Aset (Assets) = 23.992.313

Jawab:

  • Debt to Asset Ratio (DAR) = 17.108.006 / 23.992.313
  • Debt to Asset Ratio (DAR) = 0,71 atau 71%

Cara Menginterpretasikan Debt to Asset Ratio (DAR)

Sebagai mana yang diketahui, Alfamart memiliki rasio DAR sebesar 71% pada tahun 2019. Artinya, 71% dari total aset perusahaan dibiayai oleh utang, sisanya 29% berasal dari modal (ekuitas) pemegang saham. Kenapa 29% adalah ekuitas pemegang saham? Karena konsep dari total aset, yaitu utang + modal. Cara menginterpretasikan rasio DAR yaitu semakin tinggi nilai DAR, semakin besar perusahaan menggunakan utang untuk memperoleh aset.

Download dan baca materi DAR lebih lengkap: Klik di Sini

2. Debt to Equity Ratio (DER)

Menurut Sherman (2015), pengertian debt to equity ratio (DER) adalah suatu ukuran untuk melihat perbandingan antara dana yang berasal dari modal atau ekuitas (equity) pemilik perusahaan dan utang (debt) dari kreditur. Rumus atau cara menghitung debt to equity ratio (DER) yaitu sebagai berikut.

DER = Total Debt / Total Equity

Contoh Soal Debt to Equity Ratio (DER)

Sebagai contoh soal untuk debt to equity ratio (DER), invesnesia masih menggunakan sampel data keuangan dari PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) atau Alfamart per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Total Utang (Debt) = 17.108.006
  • Total Ekuitas (Equity) = 6.884.307

Jawab:

  • Debt to Equity Ratio (DER) = 17.108.006 / 6.884.307
  • Debt to Equity Ratio (DER) = 2,5 atau 250%

Cara Menginterpretasikan Debt to Equity Ratio (DER)

Telah diketahui nilai debt to equity ratio (DER) Alfamart yaitu 250%. Artinya, utang perusahaan melebihi 250% dari modal yang dimiliki perusahaan. Jika dihitung dalam bentuk satuan, maka utang perusahaan 2,5 kali lebih banyak dari modal perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio DER perusahaan, maka semakin besar penggunaan utang dibandingkan modal sendiri (ekuitas).

Rasio utang terhadap ekuitas yang relatif tinggi mengindikasikan perusahaan tidak dapat lagi mengambil utang tambahan. Namun, pada saat yang sama, rasio DER yang tinggi memberikan potensi pengembalian ekuitas yang lebih tinggi bagi pemegang saham, yaitu melalui penggunaan leverage keuangan yang menguntungkan.

Bunga utang umumnya bersifat tetap, terlepas dari jumlah pendapatannya sehingga jika perusahaan mampu memaksimalkan utang, maka potensi pendapatan yang dihasilkan bisa menutupi pembayaran bunga utang. Menurut Sherman (2015), tidak ada rasio DER yang ideal karena sangat bergantung dari pemanfaatan utang. Namun, setiap investor dan kreditur harus menentukan rasio DER yang memadai berdasarkan tingkat risiko yang diinginkan.

Download dan baca materi DER lebih lengkap: Klik di Sini

3. Times-Interest-Earned Ratio (TIE)

Menurut Sherman (2015), times-interest-earned ratio atau TIE ratio adalah suatu ukuran untuk menentukan berapa kali biaya bunga yang diperoleh – dihitung untuk menentukan tingkat keamanan bagi kreditur jangka panjang. TIE ratio atau disebut juga sebagai interest coverage ratio, adalah indikator kemampuan perusahaan untuk menutupi pembayaran bunga kepada kreditur. TIE ratio atau interest coverage ratio merupakah salah satu jenis rasio cakupan (coverage ratios).

Pada dasarnya, rasio cakupan (coverage ratios) dirancang untuk menghubungkan biaya keuangan (finance expenses) perusahaan dengan kemampuannya untuk menutupinya. Layanan pemeringkatan obligasi, seperti Moody’s Investors Service dan Standard & Poor’s, menggunakan rasio cakupan secara ekstensif. Rasio cakupan yang paling umum adalah rasio cakupan bunga (interest coverage ratio), atau times-interest-earned (TIE) ratio. Rumus atau formula untuk mengukur TIE ratio yaitu sebagai berikut.

TIE Ratio = Laba Bersih sebelum Bunga dan Pajak / Beban Bunga

TIE Ratio = Earnings before Interest and Taxes / Interest Expense

Contoh Soal Times-Interest-Earned Ratio

Data keuangan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) per Desember 2019 (dalam jutaan rupiah).

Diketahui:

  • Earnings Before Interest and Taxes (EBIT) = 1.790.402
  • Beban Bunga (Interest Expense) = 397.856

Jawab:

  • TIE Ratio = (1.790.402 / 397.856)
  • TIE Ratio = 4,5 kali (x)

Cara Menginterpretasikan TIE Ratio

Seperti yang diketahui, nilai times-interest-earned ratio atau TIE ratio Alfamart tahun 2019 yaitu sebesar 4,5 x. Artinya, laba usaha perusahaan mampu menutupi (meng-cover) 4,5 kali dari beban keuangan atau beban bunga. Pada intinya, semakin besar TIE ratio perusahaan, semakin baik perlindungan bagi kreditur. Dengan kata lain, nilai TIE ratio yang tinggi menunjukkan kesanggupan perusahaan membayar biaya bunga dari laba usaha yang dihasilkan.

Note: Rasio cakupan bunga (interest coverage ratio) memberikan informasi tentang kemampuan perusahaan untuk menutupi bunga yang terkait dengan pembiayaan utangnya. Namun, ada biaya lain yang tidak timbul dari utang tetapi harus dipertimbangkan dengan cara yang sama. Misalnya, pembayaran sewa – adalah biaya tetap yang timbul dalam operasi pendanaan. Seperti pembayaran bunga, mereka mewakili kewajiban hukum. Oleh karena itu, Fabozzi & Drake (2009) menambahkan rasio cakupan lainnya yang melibatkan biaya sewa, yaitu fixed charge coverage ratio.

4. Fixed Charge Coverage Ratio

Menurut Fabozzi & Drake (2009), fixed charge coverage ratio adalah jenis rasio keuangan yang membandingkan nilai EBIT yang telah ditambah biaya sewa (lease expenses) dengan beban bunga (interest expense) yang juga sudah ditambahkan dengan biaya sewa (lease expenses) perusahaan. Rumus atau formula untuk menghitung fixed charge coverage ratio (FCCR) yaitu sebagai berikut.

FCCR = (EBIT + Lease Expenses) / (Interest Expense + Lease Expenses)

5. Cash Flow Interest Coverage Ratio

Menurut Fabozzi & Drake (2009), cash flow interest coverage ratio adalah jenis rasio keuangan yang menjumlahkan nilai arus kas dari kegiatan operasi (cash flow from operating), beban bunga (interest expense), dan beban pajak (taxes), kemudian dibagi dengan beban bunga (interest expense) perusahaan. Berikut rumus atau formula untuk menghitung cash flow interest coverage ratio (CFICR).

CFICR = (Cash Flow from Operating + Interest Expense + Taxes) / Interest Expense

Baca juga: Pengertian Cash Flow dan Free Cash Flow serta Cara Analisis

Cara Analisis Rasio Leverage

Cara menganalisis rasio leverage atau rasio solvabilitas dapat menggunakan metode perbandingan industri (industry comparison), yaitu dengan membandingkan nilai rasio leverage dari suatu perusahaan (dalam hal ini PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk) dengan nilai rasio leverage rata-rata industri (industry average). Alfamart adalah perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan, jasa, dan investasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Secara lebih spesifik, Alfamart berada di subsektor ritel (retail).

Untuk melakukan analisis rasio leverage dengan metode perbandingan industri, langkah pertama yaitu mencari nilai rasio leverage dari rata-rata industri retail. Caranya, jumlahkan semua nilai rasio leverage perusahaan, kemudian dibagi dengan jumlah perusahaan di sektor retail tersebut. Lakukan langkah seperti itu untuk semua jenis rasio leverage. Berikut contoh perhitungan dan analisisnya.

  1. Debt to Asset Ratio (DAR) dari Alfamart yaitu 71%. Sedangkan nilai rata-rata DAR sektor retail misalnya 56%. Artinya, rasio DAR Alfamart berada di atas rata-rata industri, yang mengindikasikan bahwa aset Alfamart yang dibiayai oleh utang lebih banyak daripada rata-rata perusahaan di sektor retail.
  2. Debt to Equity Ratio (DER) dari Alfamart yaitu 250%. Sedangkan nilai rata-rata DER sektor retail misalnya 150%. Artinya, rasio DER Alfamart berada di atas rata-rata industri, yang menunjukkan perbandingan utang dan modal Alfamart lebih besar daripada rata-rata perusahaan di sektor retail.
  3. Times-Interest-Earned Ratio (TIE) dari Alfamart yaitu 4,5 kali (x). Sedangkan nilai rata-rata TIE ratio sektor retail misalnya 5 kali. Artinya, nilai TIE ratio Alfamart berada di bawah rata-rata industri, yang menunjukkan bahwa kemampuan laba usaha Alfamart untuk menutupi biaya bunga tidak lebih baik dari perusahaan lain di sektor retail.

Kamu juga bisa melanjutkan analisis perbandingan industri untuk fixed charge coverage ratio dan cash flow interest coverage ratio.

Simpulan

Secara umum, rasio leverage atau rasio solvabilitas yang paling umum digunakan yaitu (1) DAR dan (2) DER. Namun, beberapa pihak berkepentingan juga menggunakan (3) TIE ratio. Sedangkan untuk (4) fixed charge coverage ratio dan (5) flow interest coverage ratio tidak begitu populer. Namun, invesnesia tetap menyajikannya sebagai pengetahuan tambahan. Nah, kamu bisa menggunakan macam-macam rasio leverage tersebut sesuai dengan kebutuhan. Well, itulah materi atau makalah rasio leverage yang dijelaskan secara lengkap dan terstruktur. Semoga kamu semua bisa memahami dengan mudah, ya.

Referensi

Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2013). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Mason: South-Western Cengage Learning.

Fabozzi, F. J., & Drake, P. P. (2009). Capital Markets, Financial Management, and Investment Management. Hoboken: Wiley.

Horne, J. C. V., & Wachowicz Jr, J. M. (2009). Fundamentals of Financial Management (13th ed.). Harlow: Pearson Education Limited.

Sherman, E. H. (2015). A Manager’s Guide to Financial Analysis (6th ed.). New York City: American Management Association.

Penting: Mohon mencantumkan sumber invesnesia.com jika mengutip isi artikel.

Tag: rasio leverage, rasio manajemen utang; debt to asset ratio (DAR), debt to equity ratio (DER), times interest earned ratio, fixed charge coverage ratio, flow interest coverage ratio.

error: Content is protected !!