Free Cash Flow (FCF) – Cara Menghitung dan Analisis

Arus kas bebas atau free cash flow adalah salah satu komponen penting untuk melihat uang tunai (cash) yang dihasilkan suatu entitas atau perusahaan setelah mempertimbangkan arus kas keluar (cash outflows) dalam rangka menungkung operasional dan menjaga capital assets. Pada materi kali ini, kami akan membahas lebih dalam tentang apa itu free cash flow, bagaimana rumus atau formula menghitung free cash flow, dan seperti apa cara analisis free cash flow.

Baca juga: Perhitungan Cash Flow dan Cara Analisis

Apa Itu Free Cash Flow

free-cash-flow-arus-kas-bebas

Pengertian free cash flow menurut para ahli telah diungkapkan. Menurut Fabozzi dan Drake (2009), secara teoretis, arus kas bebas adalah jumlah uang tunai yang tersisa setelah perusahaan mendanai semua proyek nilai sekarang bersih positif (positive net present value).

Proyek nilai sekarang bersih positif adalah sebuah proyek investasi modal (capital investments) yang mana nilai sekarang dari arus kas masa depan diharapkan melebihi nilai sekarang dari pengeluaran proyek–semuanya didiskontokan pada biaya modal (cost of capital).

Dengan kata lain, free cash flow adalah arus kas dari perusahaan setelah dikurangi pengeluaran modal yang dibutuhkan untuk bertahan dalam bisnis (seperti: mengganti fasilitas yang diperlukan) dan tumbuh pada tingkat yang diharapkan (butuh peningkatan modal kerja).

Teori Free Cash Flow

Jensen (1986) di dalam Fabozzi dan Drake (2009) menjelaskan bahwa teori free cash flow dikembangkan untuk menjelaskan perilaku perusahaan yang tidak bisa dijelaskan oleh teori ekonomi pada umumnya. Menurut Jensen, perusahaan yang menghasilkan arus kas bebas perlu mengeluarkan uang tunai (cash) tersebut daripada menginvestasikan dana dalam proyek investasi yang kurang menguntungkan.

Kelebihan free cash flow dari perusahaan dapat ditanggapi dengan banyak cara, seperti untuk pembayaran dividen tunai (cash dividend), buyback saham, dan penerbitan utang untuk ditukar dengan saham. Pertukaran utang untuk saham, misalnya, akan meningkatkan leverage atau liabilitas perusahaan dan kewajiban utang masa depan sehingga mewajibkan penggunaan cash flow berlebih di masa depan.

Bagaimana jika kelebihan free cash flow tidak dikeluarkan oleh perusahaan? Ada kemungkinan bagi perusahaan lain (perusahaan yang kekurangan arus kas untuk peluang investasi yang menguntungkan) untuk mengakuisisi perusahaan yang sarat (penuh) dengan arus kas bebas. Dalam hal ini, Jensen memberikan contoh pada industri minyak pada tahun 1980 yang menunjukkan pemborosan sumber daya (resources). Arus kas bebas dihabiskan untuk eksplorasi namun dengan return yang rendah dan upaya yang buruk melalui akuisisi.

Menurut Jensen, akan jauh lebih baik jika perusahaan-perusahaan tersebut membayarkan kelebihan free cash flow kepada pemegang saham (shareholders) melalui buyback atau pertukaran dengan utang (debt). Jensen menambahkan bahwa yang paling penting dari arus kas bebas adalah bagaimana cara perusahaan mengelolanya. Itulah pentingnya mengukur dan menghitung free cash flow karena itu menggambarkan adanya peluang investasi yang menguntungkan.

Rumus dan Cara Menghitung Free Cash Flow

Menurut Fabozzi dan Drake (2009), ada beberapa kebingungan ketika konsep teoretis free cash flow  diterapkan pada perusahaan. Kesulitan utama adalah jumlah pengeluaran modal atau capital expenditures yang dibutuhkan untuk mempertahankan bisnis pada tingkat pertumbuhan saat ini tidak diketahui. Perusahaan tidak melaporkan item ini dan mungkin juga tidak dapat menentukan jumlah belanja modal untuk suatu periode yang kemudian dikaitkan dengan pemeliharaan dan ekspansi.

Salah satu pendekatan cara menghitung free cash flow adalah dengan memperkirakan arus kas bebas dengan asumsi bahwa semua capital expenditures dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan perusahaan saat ini. Meskipun ada sedikit pembenaran dalam menggunakan semua pengeluaran, ini adalah solusi praktis untuk perhitungan yang tidak praktis.

Asumsi ini memungkinkan untuk menaksir free cash flow dengan menggunakan laporan keuangan yang dipublikasikan. Masalah lain dalam perhitungan ini yaitu mendefinisikan apa yang benar-benar “freecash flow. Umumnya, arus kas “bebas” dianggap sebagai apa yang tersisa setelah seluruh pengeluaran pembiayaan dibayarkan – artinya free cash flow adalah setelah bunga utang dibayarkan.

Namun, perhitungan lain juga mengungkapkan free cash flow adalah sebelum pengeluaran pembiyaan (financing expenditures), dan ada pula yang menjelaskan free cash flow adalah setelah bunga dan dividen (asumsi bahwa dividen adalah komitmen).

Tidak ada satu pun metode yang benar sebagai cara menghitung arus kas bebas, dan analis juga memiliki perkiraan yang berbeda untuk sebuah perusahaan. Masalahnya, tidak mungkin untuk mengukur free cash flow seperti yang ditentukan oleh teori karena begitu banyak metode yang muncul. Namun, ada sebuah metode sederhana yang dapat dijadikan alternatif pertama sebagai formula atau rumus free cash flow (FCF), yaitu sebagai berikut.

Alternatif 1.

  • FCF = cash flow from operationscapital expenditures

Estimasi lain dari free cash flow adalah menyesuaikan arus kas dari operasi untuk bunga setelah pajak, menambahkan jumlah ini kembali sampai pada cash flow yang disesuaikan dari operasi. Penyesuaian ini untuk memperkirakan jumlah free cash flow yang tersedia bagi pemilik ekuitas dan pemegang obligasi.

Alternatif 2.

  • FCF = cash flow from operationsadjusted interestcapital expenditures

Metode cara menghitung free cash flow lainnya yaitu dengan menyesuaikan pinjaman bersih (net borrowing) perusahaan. Ini merupakan ide untuk fokus pada dana yang tersedia bagi pemilik dengan mempertimbangkan tidak hanya capital expenditures, yang mengurangi cash flow yang tersedia bagi pemilik, tetapi juga dana yang dikumpulkan melalui pinjaman.

Alternatif 3.

  • FCF = cash flow from operationscapital expenditures + borrowingsdebt repayments

Cara Analisis Free Cash Flow

Fabozzi dan Drake (2009) memberikan contoh bagaimana perusahaan dengan arus kas bebas yang lebih rendah ternyata bisa menjadi perusahaan pemenang daripada perusahaan dengan free cash flow lebih besar namun salah dalam pengelolaan. Dalam hal ini, yang perlu digarisbawahi bahwa free cash flow adalah elemen penting yang tidak hanya berbicara baik atau buruk, tetapi juga membahas bagaimana cara mengelolanya dengan tepat. Pertimbangkan contoh free cash flow dari dua perusahaan berikut ini.

dalam jutaan

Winner Company Loser Company
A Cash flow before capital expenditures 1000 1000
B Capital expenditures, positive net present value projects 750 250
C Capital expenditures, negative net present value projects 0 500
D Cash flow (A – B – C) 250 250
E Free cash flow (A – B) 250 750

Kedua perusahaan di atas memiliki cash flow yang identik dengan total belanja modal (capital expenditures) yang sama. Namun, Winner Company hanya membelanjakan untuk proyek yang menambah value (proyek nilai sekarang bersih positif), sedangkan Loser Company membelanjakan untuk dua proyek sekaligus: proyek profitable dan proyek yang sia-sia.

Nilai free cash flow dari Winner Company memang lebih rendah daripada Loser Company. Akan tetapi, itu menunjukkan bahwa arus kas bebas yang dihasilkan Winner Company dilakukan dengan cara yang lebih menguntungkan.

Poin intinya adalah bahwa nilai free cash flow yang tinggi belum tentu baik – mungkin menunjukkan bahwa perusahaan adalah target akuisisi yang sangat baik atau perusahaan dengan potensi investasi yang tidak menguntungkan. Sedangkan nilai free cash flow positif mungkin dapat menjadi kabar baik atau buruk; begitu juga, nilai free cash flow negatif dapat mengindikasikan kabar baik atau buruk.

Oleh karena itu, setelah menghitung free cash flow, informasi lain (seperti, tren profitabilitas) harus dipertimbangkan untuk mengevaluasi kinerja operasi dan kondisi keuangan perusahaan.

Simpulan

Well, itulah materi penjelasan tentang apa itu free cash flow (FCF), seperti apa teori menurut para ahli, bagaimana cara menghitung dan analisis free cash flow. Pada dasarnya, arus kas bebas atau free cash flow adalah elemen penting bagi perusahaan. Nilai ini dapat dijadikan peluang investasi untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang. Nilai FCF bisa negatif dan positif atau tinggi dan rendah. Ini bisa mengindikasikan baik dan buruk. Namun, yang terpenting yaitu bagaimana arus kas bebas perusahaan dikelola dengan efisien dan efektif.

error: Content is protected !!