Cara Menghitung Harga Wajar Saham + Contoh Kasus UNVR

Sebagai investor, khususnya value investor, mencari saham yang murah adalah suatu keharusan dalam rangka memaksimalkan return saham atau keuntungan dalam investasi saham. Namun, tidak sedikit investor yang belum mengetahui metode atau cara menghitung harga wajar saham (fair value in stock). Tidak sedikit juga investor yang salah kaprah dalam menganalisis harga wajar saham, termasuk untuk menentukan apakah harga saham mahal (overvalued) atau masih murah (undervalued).

Memahami Apa Itu Nilai Wajar (Fair Value)

cara menghitung harga wajar saham
gambar menganalisis harga saham

Nilai wajar (fair value) adalah istilah populer di dalam dunia investasi dan keuangan. Secara umum, nilai wajar adalah harga suatu aset yang sama-sama disepakati oleh pembeli dan penjual dengan asumsi bahwa kedua belah pihak punya pengetahuan yang ideal terhadap nilai aset tersebut.

Di dalam konteks saham misalnya, fair value adalah harga pasar suatu saham yang berada pada titik tertentu dan “dianggap” sebanding dengan “fundamental” perusahaan. “Fundamental” di sini sering kali mengacu pada kondisi atau kinerja keuangan perusahaan.

Nah, setiap investor mungkin akan memiliki pandangan dan perspektif berbeda terhadap nilai wajar atau harga wajar saham. Namun secara umum, mereka akan sepakat bahwa nilai pasar suatu saham belum tentu menjadi harga wajarnya.

Sebagai contoh, harga saham Univeler (UNVR) hari ini (4/10/2021) ditutup pada level 3.980 per lembar. Ini adalah nilai pasar, yang merupakan kesediaan investor untuk membayar saham UNVR di market. Pada awal Januari 2021, harga saham UNVR berada di level 7.475 per lembar. Artinya, harga saham Unilever telah mengalami depresiasi sebesar hampir 50%.

Ini menunjukkan bahwa harga saham di bursa efek, dalam kasus ini UNVR, adalah tentang bagaimana investor mau membayar saham tersebut. Dari kasus penurunan harga saham UNVR, bisa dilihat bahwa harga 7.475 dianggap terlalu mahal bagi investor sehingga mereka tidak mau memiliki saham pada harga tersebut; artinya, mereka akan melepas atau menjual saham UNVR. Ini mengakibatkan harga saham UNVR merosot.

Di dalam investasi, ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa “pada akhirnya, harga pasar suatu saham akan menuju nilai wajarnya.” Pertanyaannya, apakah harga saham UNVR 3.980 sudah menjadi nilai wajar? Belum tentu! Bisa saja harga saham UNVR hari ini masih dianggap mahal (overvalued) dan bisa juga sudah cukup murah (undervalued). Oleh karena itulah perlu metode perhitungan untuk mengukur nilai wajar suatu saham.

Salah Kaprah Memahami Harga Saham Murah dan Mahal

Investor pemula paling sering salah kaprah dalam memahami harga saham murah dan mahal. Karena ketidaktahuan ini, mereka tentu saja juga tidak akan mampu menilai harga wajar saham (fair value of stock). Kesalahannya yaitu menganggap harga saham yang tinggi adalah mahal, dan harga saham yang rendah adalah murah. Ini jelas keliru.

Sebagai contoh, ada dua jenis saham berbeda, katakanlah Unilever (UNVR) dan Indofood (ICBP). Harga saham UNVR hari ini 3.980 dan ICBP 8.650. Kesalahan investor pemula, mereka dengan mudah mengatakan harga saham ICBP lebih mahal daripada UNVR. Ini asumsi yang keliru jika mereka menganalisis “hanya dari harga saham itu sendiri”.

Namun, berbeda jika mereka punya metode yang jelas dan terukur tentang penilaian nilai suatu saham, bukan semata-mata hanya melihat secara telanjang berdasarkan “harga saham” itu sendiri. Jadi, istilah harga saham mahal atau murah lebih tepat jika dibandingkan dengan “faktor fundamental” perusahaan tersebut, dalam hal ini bisa menggunakan rasio keuangan.

Metode untuk Mengukur Harga Wajar Saham

Ketika bericara tentang cara menghitung harga wajar saham, maka dibutuhkan suatu metode perhitungan tertentu. Dalam hal ini, kita akan menggunakan salah satu jenis rasio keuangan, yakni rasio nilai pasar atau market value ratio. Sebagai informasi, ada 5 (lima) jenis rasio keuangan, yakni:

Secara umum, rasio pasar atau rasio nilai pasar adalah sebuah perhitungan untuk membandingkan harga pasar suatu saham dengan kinerja keuangannya yang tercermin dari pendapatan atau laba. Market value ratio ini dapat digunakan untuk menilai apakah harga saham dapat disebut murah (undervalued), mahal (overvalued), atau sudah berada di harga wajar (fair value).

Ada 2 (dua) jenis rasio nilai pasar yang paling populer digunakan, yakni sebagai berikut:

  1. price to earnings ratio (PER)
  2. price to book value (PBV)

Dengan kata lain, kita akan menggunakan PER dan PBV sebagai metode perhitungan atau cara mencari harga wajar saham, termasuk juga menentukan apakah saham tersebut mahal atau murah.

#1. Price to Earnings Ratio (PER atau P/E Ratio)

Alternatif pertama sebagai cara menghitung harga wajar saham adalah dengan menggunakan price to earnings ratio atau P/E ratio. Secara umum, rasio PER adalah perbandingan harga saham dengan laba per saham atau earnings per share/EPS. P/E ratio menunjukkan kesediaan investor membayar suatu saham untuk setiap rupiah dari laba per saham.

PER = harga saham / EPS

Keterangan: untuk mencari nilai EPS, maka rumus EPS = laba bersih / jumlah saham beredar.

Contoh soal, katakanlah harga saham A tahun 2020 sebesar 1.000 per lembar dan memiliki EPS 50. Dengan demikian, PER saham A yaitu 1.000 / 50 = 20 x (kali). Hal ini menunjukkan bahwa harga saham A yaitu 20 kali lebih besar daripada laba per saham (EPS).

Cara analisis harga wajar saham dengan PER adalah dengan menggunakan analisis perbandingan industri, yakni membandingkan nilai PER saham A dengan nilai rata-rata PER industri di mana saham A berada. Katakanlah saham A berada di sektor industri manufaktur yang mana rata-rata PER sektor manufaktur, misalnya, sebesar 10 x (kali).

  • PER saham A = 20 x
  • PER saham industri = 10 x

Dengan pendekatan atau metode analisis perbandingan industri, dapat dilihat bahwa PER saham A berada di atas rata-rata industri. Di satu sisi, ini dapat menjelaskan bahwa harga saham A dianggap mahal (overvalued) yang mana harga wajar saham A semestinya bergerak di level 500, bukan 1000, sehingga nilai PER mendekati PER industri.

Namun di sisi lain, nilai PER di atas rata-rata industri juga mengindikasikan bahwa prospek suatu saham dianggap baik dan cerah, sehingga investor mau membayar dengan harga lebih mahal. Oleh karena itu, investor harus cermat dan bijaksana dalam menafsirkan nilai PER, baik untuk menilai apakah harga saham sudah wajar, atau masih murah, atau sudah mahal.

#2. Price to Book Value (PBV) Ratio

Alternatif selanjutnya sebagai cara menghitung harga wajar saham adalah dengan price to book value (PBV) ratio. Secara umum, rasio PBV adalah perbandingan harga saham dengan nilai buku (book value/BV).

PBV = harga saham / BV

Keterangan: untuk mencari nilai BV, maka rumus BV atau book value per share (BVPS) = saham biasa / outstanding share.

Contoh soal, katakanlah harga saham B tahun 2020 sebesar 4.000 per lembar dengan nilai BVPS sebesar 1.800. Dengan demikian, PBV saham B yaitu 4.000 / 1.800 = 2,22 x (kali). Hal ini menunjukkan bahwa harga saham B yaitu 2,22 kali lebih besar daripada nilai bukunya.

Cara interpretasi harga wajar saham dengan PBV adalah bahwa harga suatu saham akan dianggap wajar (fair value) ketika nilai PBV = 1. Dengan kata lain, harga saham harus setara (sama) dengan nilai bukunya. Saham dengan PBV lebih besar dari 1 dianggap mahal (overvalued). Sedangkan saham dengan PBV lebih kecil dari 1 dapat dianggap murah (undervalued). Untuk menganalisis PBV, Anda juga bisa menggunakan pendekatan analisis perbandingan industri.

Contoh Kasus Menghitung Harga Wajar Saham UNVR

Dalam kasus ini, invesnesia akan menggunakan PBV dan PER sebagai indikator utama untuk menghitung harga wajar saham UNVR.

1. Menghitung Harga Wajar Saham UNVR dengan PBV

Langkah-langkah cara mencari dan menghitung harga wajar saham dengan PBV adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan harga saham per lembar
  2. Mencari nilai book value per shares (BVPS)
  3. Menghitung nilai PBV

Untuk menghitung harga wajar saham UNVR untuk data 4/10/2021, kami akan menggunakan angka-angka dari RTI Business, yaitu sebagai berikut:

  1. Harga saham UNVR adalah 3.980
  2. BVPS UNVR = 105
  3. PBV UNVR = 3.980/105 = 37,90 x (kali)

Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa PBV UNVR lebih besar dari 1, atau lebih tepatnya yakni sebesar 37,90. Ini bisa menunjukkan bahwa secara teoretis, harga saham UNVR adalah mahal alias overvalued. Untuk mengonfirmasi lebih detail, Anda bisa membandingkan dengan PBV rata-rata industri sektor manufaktur, atau lebih spesifik yakni sektor barang konsumsi (consumer goods).

Di BEI sendiri ada sekitar 54 perusahaan yang berada di sektor barang konsumsi.  Sebagai perbandingan “cepat-cepat” misalnya, kita ambil saja beberapa sampel nilai PBV dari beberapa perusahaan di sektor consumer goods (data 4/10/2021).

Diketahui:

  • PBV Unilever Indonesia Tbk (UNVR) = 37,90 x
  • PBV Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) = 3,07 x
  • PBV Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) = 2,75 x
  • PBV Mayora Indah Tbk (MYOR) = 4,32 x
  • PBV Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) = 2,79 x
  • PBV Kino Indonesia Tbk (KINO) = 1,19 x

Nah, dari sampel enam nilai PBV perusahaan sektor consumer goods di atas, rata-rata PBV = 8,67 x. Secara eksplisit kita bisa melihat bahwa PBV UNVR jauh lebih tinggi di atas rata-rata indsutri yaitu 37,90 > 8,67. Artinya, dari segi analisis perbandingan industri, harga saham UNVR hari ini masih tidak wajar, atau dapat dikatakan mahal (overvalued).

2. Menghitung Harga Wajar Saham UNVR dengan PER

Langkah-langkah cara menghitung harga wajar saham dengan PER adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan harga saham per lembar
  2. Mencari nilai EPS
  3. Menghitung nilai PER

Berdasarkan data RTI Business 4/10/2021, diketahui data-data nilai PER perusahaan sektor consumer goods adalah sebagai berikut:

  • PER UNVR = 24,92 x
  • PER ICBP = 15,66 x
  • PER HOKI = 121,57 x
  • PER MYOR = 27,75 x
  • PER ROTI = 33,78 x
  • PER KINO = 39,78 x

Dengan demikian, rata-rata PER industri sektor consumer goods di atas adalah sebesar 43,91. Dengan demikian, PER UNVR berada di bawah rata-rata industri; artinya harga saham UNVR hari ini adalah murah (undervalued).

Untuk mendapatkan data lebih akurat mengenai nilai PBV dan PER rata-rata industri, invesnesia menyarankan agar menggunakan semua perusahaan di sektor tersebut, bukan hanya beberapa sampel saja. Perhitungan menggunakan beberapa sampel di atas hanya sebagai gambaran singkat saja.

Pandangan Akhir

Pada dasarnya, PER dan PBV adalah beberapa metode atau ukuran atau indikator yang bisa digunakan sebagai cara menghitung harga wajar saham dan cara menilai saham mahal (overvalued) dan murah (undervalued). Yang perlu dicatat bahwa angka-angka yang dihasilkan dari PER dan PBV bukanlah angka mutlak, keduanya hanya sebagai gambaran atau metrik untuk membantu investor mendeteksi nilai pasar suatu saham.

Yang perlu dipahami adalah bahwa setiap investor punya penilaian, perspektif, dan pandangan tersendiri terhadap suatu saham. Suatu investor mungkin mengatakan bahwa nilai PER dan PBV yang tinggi adalah baik karena menunjukkan prospek saham tersebut cerah sehingga pasar mau membayar mahal.

Investor lainnya mungkin menganggap PER dan PBV yang lebih rendah adalah yang paling potensial karena masih murah, sehingga peluang pertumbuhan lebih tinggi di masa depan. Selain itu, masing-masing investor juga bisa menilai dan menginterpretasikan angka PER dan PBV secara berbeda. Dalam hal ini, kita tidak berbicara siapa yang benar dan salah. Setiap investor punya hak untuk berpendapat.

Namun secara teoretis, harga wajar saham dengan PBV adalah ketika PBV = 1. Sementara, harga wajar saham dengan PER adalah ketika PER suatu saham bernilai sama atau mendekati rata-rata industri. Sekali lagi, karena ada ungkapan bahwa harga saham perusahaan pada akhirnya akan menuju nilai wajarnya, maka penting untuk mempertimbangkan PBV dan PER.

Meskipun setiap investor mungkin akan berbeda dalam menginterpretasikan apa itu nilai wajar atau harga wajar saham, termasuk perhitungan dan analisis yang digunakan, indikator PBV dan PER tetap layak dipertimbangkan. Well, inilah penjelasan cara menghitung harga wajar saham. Semoga artikel ini membantu Anda.

Leave a Comment

error: Content is protected !!