Teori Produksi (Theory of Production)

Produksi merupakan istilah yang umum di masyarakat. Hampir setiap kegiatan dihiasi dengan kegiatan produksi. Dalam contoh sempit, ketika kamu membuat kopi, itu adalah bagian dari produksi. Untuk memahami produksi lebih jauh, di sini akan dibahas tentang teori produksi. Singkatnya, teori produksi adalah konsep yang membahas hubungan antara tingkat produksi dan jumlah faktor-faktor produksi, beserta hasil outputnya. Agar lebih jelas, pembahasan dimulai dari memahami konsep produksi.

Memahami Konsep Produksi

Gambar Teori Produksi

Untuk memahami teori produksi, kita mulai dari penjelasan apa itu produksi. Dalam ilmu ekonomi produksi dapat mengacu pada transformasi input menjadi output. Input adalah bahan mentah atau sumber daya produktif lainnya yang digunakan untuk menghasilkan produk akhir, yang disebut sebagai output. Dalam istilah teknis, produksi adalah penciptaan utilitas atau penciptaan barang dan jasa yang memuaskan keinginan konsumen. Dengan demikian, suatu barang akan menjadi berguna dengan menambahkan utilitas. Sebagai contoh, kamu tidak bisa mengkonsumsi beras saat lapar, kecuali sudah dimasak menjadi nasi (output). Konversi beras menjadi nasi disebut sebagai proses menciptakaan kegunaan atau utilitas (utility).

Secara umum, utilitas dapat dibuat dengan tiga cara, yaitu sebagai berikut.

Pertama, mengubah bentuk dan/atau ukuran suatu barang. Beras telah diubah menjadi nasi dengan proses memasak. Contoh lainnya, seorang koki yang mengubah segumpal adonan menjadi pizza yang lezat, adalah contoh mengubah bentuk atau ukuran barang, sehingga akan menciptakan utility.

Kedua, menggunakan barang dan jasa yang langka pada waktu yang tepat (saat dibutuhkan). Contoh, pemerintah mempertahankan stok pangan sehingga selama masa krisis, pemerintah melepaskan bahan pangan ke pasar untuk memenuhi permintaan pasar.

Ketiga, memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain yang lebih berguna. Pasir yang dipindahkan dari sisi sungai ke lokasi konstruksi meningkatkan kegunaannya. Jadi, produksi adalah proses menambahkan utilitas ke barang melalui utilitas bentuk, utilitas tempat, dan utilitas waktu.

Memahami Fungsi Produksi

Teori produksi akan berkaitan dengan fungsi. Fungsi produksi dapat didefinisikan sebagai hubungan fungsional antara input fisik dan output fisik. Menurut para ahli, salah satunya Stigler, fungsi produksi adalah istilah yang menjelaskan hubungan antara tingkat input dari layanan produktif dan tingkat output produk. Definisi tersebut merupakan simpulan dari ekonom tentang pengetahuan teknologi.

Rumus atau persamaan umum dari fungsi produksi dapat dinyatakan sebagai berikut:

Q = f (a, b, c, d…)

Dimana, Q adalah singkatan dari output, a, b, c, d…. adalah sumber daya atau masukan produktif yang membantu menghasilkan keluaran Q; sedangkan f mengacu pada fungsi. Jadi Q adalah fungsi dari a, b, c, d…, yang berarti Q bergantung pada a, b, c, d… Dengan demikian, fungsi produksi menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dari sekumpulan input tertentu berdasarkan teknologi yang tersedia.

Memahami Faktor-faktor Produksi

Secara umum, pengertian faktor produksi adalah sumber daya (resources) yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa; semua elemen tersebut adalah blok bangunan ekonomi. Ekonom membagi faktor produksi menjadi empat kategori, yaitu (1) tanah, (2) tenaga kerja, (3) modal, dan (4) kewirausahaan.

1. Tahan (Land)

Pertama, faktor produksi yaitu tanah (land): mencakup sumber daya alam yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Tanah dapat mengacu pada sesuatu yang ada di bawah, di permukaan, dan di atas bumi. Beberapa contoh tanah atau sumber daya alam yang umum adalah air, minyak, tembaga, gas alam, batu bara, dan hutan. Sumber daya tanah merupakan bahan baku dalam proses produksi. Sumber daya ini dapat diperbarui, seperti hutan, atau tidak terbarukan seperti minyak atau gas alam. Pendapatan yang didapatkan pemilik sumber daya sebagai imbalan atas sumber daya tanah disebut sebagai sewa (rent).

2. Tenaga Kerja (Labor)

Kedua, faktor produksi kedua yaitu tenaga kerja (labor). Tenaga kerja adalah upaya orang berkontribusi pada produksi barang dan jasa. Contoh sumber daya tenaga kerja, pekerjaan pramusaji yang membawakan makanan di restoran setempat, insinyur yang merancang bus untuk mengantar anak-anak ke sekolah. Jika kamu pernah dibayar untuk suatu pekerjaan, artinya kamu telah menyumbangkan sumber daya tenaga kerja untuk produksi barang atau jasa. Pendapatan yang diperoleh dari sumber daya tenaga kerja disebut upah (wages) dan merupakan sumber pendapatan terbesar bagi banyak orang.

3. Modal (Capital)

Faktor produksi ketiga yaitu modal (capital). Dapat mengacu aset tetap (fixed assets) yang digunakan untuk kegiatan operasional bisnis, biasanya untuk kebutuhan jangka panjang. Contoh modal seperti mesin, peralatan, dan bangunan yang digunakan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa. Beberapa contoh umum modal termasuk palu, forklift, komputer, kendaraan kantor, dan sebagainya. Setiap bisnis memiliki jenis modal berbeda. Misalnya, dokter mungkin menggunakan stetoskop dan ruang pemeriksaan untuk memberikan layanan medis. Guru les mungkin menggunakan buku teks, meja, dan papan tulis untuk menghasilkan layanan pendidikan. Penulis lepas akan menjadikan laptop sebagai modal. Nah, pendapatan yang dihasilan oleh pemilik modal adalah bunga (interest).

4. Kewirausahaan (Entrepreneurship)

Faktor produksi keempat yaitu kewirausahaan (entrepreneurship). Pengusaha adalah pihak yang mengombinasikan faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, dan modal) kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan. Pengusaha paling sukses adalah inovator yang menemukan cara baru memproduksi barang dan jasa atau yang mengembangkan barang dan jasa baru untuk dibawa ke pasar. Contoh kewirausahaan yang inovatif seperti yang dilakukan Bill Gates (Microsoft), Mark Zuckerberg (Facebook), Jeff Bezoz (Amazon), dan Elon Musk (Tesla).

Pada dasarnya, pengusaha (entrepreneur) adalah mesin penting pertumbuhan ekonomi yang membantu membangun beberapa perusahaan terbesar di dunia serta beberapa bisnis kecil di lingkungan masyarakat. Pengusaha berkembang dalam ekonomi di mana mereka memiliki kebebasan untuk memulai bisnis dan membeli sumber daya dengan bebas. Apalagi di zaman industri 4.0 yang bermunculan bisnis startup yang memberikan layanan berbeda pada masyarakat. Nah, jenis pembayaran yang dihasilkan ketika berwirausaha adalah keuntungan (profit).

Apakah Uang Masuk ke Dalam Faktor Produksi?

Sebagaimana yang didefinisikan oleh para ekonom klasik, uang bukanlah bagian dari modal atau faktor produksi karena tidak termasuk sumber daya yang produktif. Sementara uang dapat digunakan untuk membeli modal, barang modal (seperti mesin dan peralatan) yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Pada dasarnya, uang hanya memfasilitasi perdagangan, tetapi uang itu sendiri bukanlah sumber daya yang produktif sehingga tidak masuk faktor produksi.

Ingat, barang dan jasa langka karena faktor produksi yang digunakan untuk memproduksinya langka. Kelangkaan digambarkan sebagai sumber daya dalam jumlah terbatas untuk memenuhi keinginan yang tidak terbatas. Pertimbangkan celana jeans biru denim. Denim ini terbuat dari katun, ditanam di darat. Tanah dan air yang digunakan untuk menanam kapas terbatas dan dapat digunakan untuk menanam berbagai tanaman yang berbeda.

Para pekerja yang memotong dan menjahit denim di pabrik adalah sumber tenaga kerja terbatas yang dapat menghasilkan barang atau jasa lain dalam perekonomian. Mesin dan pabrik yang digunakan untuk memproduksi jeans adalah sumber modal terbatas yang dapat digunakan untuk memproduksi barang lain. Kelangkaan sumber daya mengindikasikan bahwa memproduksi beberapa barang dan jasa akan membuat barang dan jasa lain tidak diproduksi. Selalu ingat bahwa empat faktor produksi: tanah, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan – adalah sumber daya langka yang membentuk blok bangunan ekonomi.

Fungsi Produksi Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Umumnya ada dua jenis fungsi produksi yang banyak digunakan dalam ilmu ekonomi. Pertama, fungsi produksi ketika kuantitas dari beberapa input bersifat tetap (fixed) dan kuantitas dari satu atau beberapa input lainnya diubah. Fungsi produksi semacam ini dipelajari di bawah hukum proporsi variabel, disebut juga sebagai fungsi produksi jangka pendek.

Jangka pendek adalah periode di mana satu atau lebih faktor produksi ditetapkan jumlahnya. Konsepnya yaitu tidak ada waktu untuk mengganti aset perusahaan (pabrik atau peralatan). Biasanya, dalam kurun waktu tersebut, hasil output memungkinkan untuk diubah jumlahnya dengan cara mengubah faktor produksi dari variabel yang digunakan, serta dengan peralatan mesin yang tersedia.

Kedua, fungsi produksi di mana semua input diubah – akan membentuk pokok bahasan hukum skala hasil – dapat disebut fungsi produksi jangka panjang. Jangka panjang adalah periode di mana semua faktor menjadi variabel. Konsepnya yaitu aset dapat diganti, seperti mengganti pabrik baru, gedung baru, peralatan baru, dan sebagainya.

Hukum Proporsi Variabel

Hukum proporsi variabel atau The Law of Variable Proportions menyatakan bahwa ketika satu faktor meningkat dan menjaga faktor lainnya tetap/konstan, produk marjinal dan rata-rata pada akhirnya akan menurun. Hukum ini menerangkan bagaimana total output atau output marjinal dipengaruhi oleh perubahan proporsi faktor yang digunakan. Menurut Stigler, ketika input yang sama ditambahkan; input dari layanan produktif lainnya tetap sama (konstan). Setelah titik tertentu, produk yang diperoleh akan berkurang, yaitu produk marjinal. Pada akhirnya, peningkatan jumlah faktor variabel ke faktor tetap akan menghasilkan kenaikan output ke titik yang pada akhirnya menurun.

Asumsi Hukum Proporsi Variabel

The Law of Variable Proportions mengasumsikan sebagai berikut:

Pertama, keadaan teknologi diasumsikan konstan.

Kedua, harus ada beberapa input yang jumlahnya dijaga tetap atau konstan.

Ketiga, hukum didasarkan pada kemungkinan adanya variasi proporsi di mana berbagai faktor dapat digabungkan untuk menghasilkan suatu produk. Ini tidak dapat diterapkan pada kasus di mana faktor harus digunakan dalam proporsi tetap untuk menghasilkan produk. Hukum proporsi variabel dijelaskan dengan bantuan tabel berikut.

Tabel Hukum Proporsi Variabel

Dengan kuantitas tanah yang konstan, jumlah pekerja ditingkatkan dari 1 menjadi 10. Jika ada 7 pekerja, output maksimum yaitu 118 kg. Di luar titik ini, total produk mulai berkurang. Hingga unit pekerja ke-3, total produk meningkat dengan laju yang meningkat dan setelah itu pada tingkat yang menurun. Hal ini jelas terlihat dari kolom ketiga (MP) bahwa produk marjinal turun terus menerus setelah unit pekerja ke-3 dan bahkan menjadi negatif di luar unit pekerja ke-8. Produk rata-rata meningkat hingga unit ke-4 tenaga kerja dan jatuh setelahnya. Hukum proporsi variabel tersebut dapat juga dijelaskan dengan menggunakan gambar berikut ini.

Gambar Hukum Proporsi Variabel

Pada gambar di atas, sumbu OX mengukur unit faktor variabel dan sumbu OY mengukur produk-produk total, marginal, dan rata-rata. Terdapat tiga tahap hukum proporsi variabel yang berbeda seperti yang dijelaskan di bawah ini:

Tahap pertama, pergi dari titik asal ke titik di mana output rata-rata adalah maksimum (titik S). Pada tahap ini produk marjinal meningkat. Tahap ini dikenal sebagai tahap peningkatan keuntungan (the stage of increasing returns). Alasan untuk meningkatkan pengembalian adalah ketika semakin banyak unit faktor variabel ditambahkan ke jumlah konstan faktor tetap, maka faktor tetap lebih efektif dan intensif digunakan. Hal ini menyebabkan output meningkat dengan cepat.

Tahap kedua, dimulai dari titik di mana output rata-rata maksimum ke titik di mana output marjinal adalah nol (titik N). Pada tahap ini, produk marjinal mulai turun. Ketika faktor tetap paling efisien digunakan, maka peningkatan lebih lanjut dalam faktor variabel menyebabkan produk marjinal dan rata-rata menurun karena faktor tetap sekarang langka dibandingkan dengan jumlah faktor variabel. Oleh karena itu, tahap ini dikenal sebagai tahap hasil yang semakin berkurang (the stage of diminishing returns).

Tahap ketiga, dimulai ketika total produk maksimum dan produk marjinal nol. Pada tahap ini, produk marjinal menjadi negatif. Sejumlah faktor variabel menjadi terlalu besar dibandingkan dengan faktor tetap sehingga total output turun dan output marjinal menjadi negatif. Inilah alasan mengapa tahap ini dikenal sebagai tahap pengembalian negatif (the stage of negative returns).

Skala Hasil Produksi (Return to Scale)

Skala produksi berkaitan dengan ukuran bisnis. Setiap pengusaha harus memutuskan ukuran pabrik atau bisnisnya. Pertanyaannya adalah seberapa besar bisnis seharusnya. Karena hingga ukuran bisnis tertentu, apa yang disebut “skala ekonomi (economies of scale)” terjadi. Ekonomi dapat mengacu pada manfaat yang muncul karena perluasan bisnis. Skala ekonomi dapat secara luas dibagi menjadi dua kategori, yaitu (1) internal dan (2) eksternal.

Ekonomi internal disebabkan oleh beberapa faktor internal, yang muncul di dalam perusahaan dan tidak dimiliki oleh perusahaan lain. Penggunaan teknologi yang lebih baik, pembelian bahan mentah dengan harga yang lebih murah, penjualan barang akhir dengan harga tinggi, ketersediaan keuangan yang mudah dari lembaga keuangan, dan sebagainya – adalah beberapa contoh ekonomi atau manfaat internal yang dinikmati perusahaan.

Ekonomi eksternal adalah keuntungan yang tersedia untuk semua perusahaan yang berlokasi di suatu daerah. Perkembangan transportasi, komunikasi yang baik dan cepat, fasilitas perbankan dan asuransi yang baik, dan seterusnya – adalah contoh ekonomi eksternal. Ukuran bisnis yang terlalu besar atau terlalu kecil tidak layak secara ekonomi. Skala optimal, yang mana mampu menutupi biaya per unit output, lebih diinginkan dari pada pabrik yang terlalu kecil atau terlalu besar.

Studi tentang perubahan output sebagai akibat dari perubahan (kenaikan atau penurunan) skala adalah pokok bahasan skala hasil. Kenaikan atau penurunan skala mengacu pada kenaikan atau penurunan semua input dalam proporsi yang sama. Jadi dalam skala hasil mempelajari pengaruh penggandaan dan seterusnya dari semua input pada total output.

Contoh Soal Teori Produksi

Untuk menguji pemahaman, berikut ada beberapa pertanyaan terkait teori produksi, yaitu sebagai berikut.

  1. Apa yang dimaksud teori produksi?
  2. Apakah yang dimaksud skala hasil produksi (return to scale)?
  3. Berikan dua alasan untuk pelaksanaan hukum peningkatan skala hasil produksi (return to scale).
  4. Bagaimana meningkatkan skala produksi dalam jangka panjang?
  5. Definisikan hal-hal berikut: (a) Fungsi produksi (b) return to scale (c) Produk marjinal.
  6. Jelaskan hukum keuntungan yang semakin berkurang. Buatlah jadwal produksi imajiner untuk menggambarkan bekerjanya hukum ini. Bagaimana hukum dapat dikendalikan?
  7. Mengapa hasil yang semakin berkurang (diminishing returns) untuk suatu faktor beroperasi?
  8. Sebutkan tiga input yang digunakan dalam produksi.
  9. Apa yang dimaksud dengan produk fisik total (total physical product)?
  10. Apa yang dimaksud dengan produk fisik marjinal (marginal physical product)?

Simpulan

Jadi, pada dasarnya, teori produksi, dalam ilmu ekonomi, adalah upaya untuk menjelaskan prinsip-prinsip yang digunakan perusahaan bisnis untuk memutuskan berapa banyak dari setiap komoditas yang dijual (output atau produk) yang akan diproduksi, dan berapa banyak dari setiap jenis tenaga kerja, bahan mentah, modal tetap, dll., yang digunakannya (input atau faktor produksi) yang akan digunakannya.

Teori produksi tersebut melibatkan beberapa prinsip ekonomi yang paling mendasar. Ini termasuk hubungan antara harga komoditas dan harga (atau upah atau sewa) faktor produktif yang digunakan untuk memproduksinya, dan juga hubungan antara harga komoditas dan faktor produktif, serta jumlah komoditas dan faktor produktif yang diproduksi atau digunakan.

Berbagai keputusan yang dibuat oleh perusahaan atas aktivitas produksi dapat dibagi menjadi tiga tingkatan – yang mana kompleksitas setiap tingkatan semakin meningkat. Lapisan pertama mencakup keputusan tentang metode menghasilkan kuantitas output tertentu di pabrik dengan ukuran dan peralatan tertentu. Ini melibatkan suatu masalah yang kemudian disebut minimalisasi biaya jangka pendek.

Lapisan kedua, termasuk penentuan jumlah produk yang paling menguntungkan untuk diproduksi di pabrik tertentu, berhubungan dengan apa yang disebut maksimalisasi keuntungan jangka pendek. Lapisan ketiga, mengenai penentuan ukuran dan peralatan pabrik yang paling menguntungkan, berkaitan dengan apa yang disebut dengan maksimalisasi keuntungan jangka panjang.

error: Content is protected !!