Aset Lancar – Pengertian, Jenis, & Perbedaan Aset Tidak Lancar

Aset atau aktiva mungkin sudah tidak asing kita dengar. Tapi tahukah Anda bahwa aset terdiri dari dua macam? Ya, ketika kita membaca dan menganalisis laporan keuangan perusahaan, lebih spesifik laporan posisi keuangan alias neraca (balance sheet), kita akan menemukan apa yang disebut aset lancar atau current assets dan aset tidak lancar alias aset tetap (fixed assets).

Aset lancar, juga disebut aset jangka pendek (short term assets), adalah salah satu subbagian aktiva yang menunjukkan semua kekayaan perusahaan yang likuid: mudah dijual, dikonsumsi, dan bisa dengan cepat digunakan untuk operasi bisnis periode satu tahun. Mengapa aset lancar atau aktiva lancar begitu penting? Ini nantinya dapat menunjukkan indikator likuiditas perusahaan.

Pada artikel ini, kita akan membahas lebih jauh tentang apa itu aset lancar, mencakup pengertian, karakteristik, komponen atau macam-macam aset lancar, rumus dan cara menghitung aset lancar, rasio keuangan yang berhubungan dengan aktiva lancar, dan perbedaan aset lancar dengan aset tidak lancar (aset tetap). Untuk lebih jelas, berikut makalah atau materi aset lancar (current assets)

Pengertian Aset Lancar (Current Assets)

apa itu aset lancar

Apa itu aset lancar (current assets)? Pengertian aset lancar atau aktiva lancar telah diungkapkan menurut para ahli. Pada dasarnya, aset lancar adalah jenis aset yang secara wajar dapat dikonversi menjadi uang tunai (kas) dalam satu siklus operasi bisnis atau satu tahun, mana di antaranya yang lebih lama (Fabozzi dan Drake, 2009). Menurut Griffin (2015), aset lancar adalah aset yang relatif mudah dikonversi menjadi uang tunai, dijual, atau dikonsumsi dalam jangka waktu pendek (maksimal satu tahun).

Jenis atau Macam-macam Aset Lancar

Berdasarkan klasifikasi umum aset (aktiva), aset lancar adalah subbagian pertama yang muncul dalam urutan likuiditasnya. Komponen atau jenis aset lancar paling likuid akan diletakkan pada posisi pertama di dalam neraca. Menurut Griffin (2015), yang termasuk aktiva lancar atau current assets meliputi:

  1. Cash
  2. Marketable securities
  3. Receivables
  4. Inventories
  5. Prepaid expenses

Uang tunai (cash) merupakan komponen atau jenis aset lancar paling likuid, dalam artian mudah dicairkan, dibelanjakan, atau digunakan. Kemudian, diikuti dengan marketable securities yang lebih likuid dari piutang (receivables). Piutang lebih likuid dari persediaaan (inventories). Persedian lebih likuid dari beban dibayar di muka (prepaid expenses). Di dalam neraca atau balance sheet, semua jenis atau komponen aset lancar akan tampak lebih jelas posisinya.

1. Kas (Cash)

Seperti yang telah dijelaskan, di dalam neraca (balance sheet), aset lancar (current assets) akan muncul sesuai dengan urutan likuiditasnya. Kas (cash) adalah aset lancar yang paling likuid sehingga menempati posisi pertama. Kas dapat terdiri dari uang tunai, cek pribadi, wesel askep (bank drafts), modey orders, cek kasir, dan uang deposit (yang disimpan) di bank.

2. Marketable Securities

Marketable securities adalah surat berharga jangka pendek atau dapat diperdagangkan (dijual atau dicairkan) dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Marketable securities atau investasi jangka pendek (short-term investments) melibatkan penggunaan sementara terhadap kelebihan kas (uang tunai) untuk menghasilkan bunga atau dividen, sampai uang tunai benar-benar dibutuhkan.

Dengan kata lain, perusahaan memiliki marketable securities karena memiliki memiliki kelebihan kas sementara perusahaan belum membutuhkan kas tersebut. Daripada kas mengendap, perusahaan mengonversi menjadi marketable securities sehingga dapat menghasilkan bunga atau dividen dalam jangka pendek, kemudian dapat dicairkan ketika perusahaan sudah membutuhkan uang tunai.

Berdasarkan prinsip akuntansi, marketable securities dilaporkan dalam tiga kategori utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Sekuritas perdagangan (trading securities).

Ini merupakan surat berharga yang dimiliki dalam jangka waktu pendek dan dijual lebih dari biaya (cost) yang dikeluarkan. Dengan kata lain, manajemen perusahaan menjual trading securities untuk menghasilkan keuntungan. Trading securities selalu dilaporkan di bagian aset lancar (current assets) dalam neraca. Contoh sekuritas perdagangan atau surat berharga yang diperdagangkan bisa berbentuk ekuitas (seperti: saham) atau utang (seperti: obligasi atau wesel).

  1. Sekuritas yang tersedia untuk dijual (available-for-sale securities).

Sekuritas yang tersedia untuk dijual dapat berbentuk investasi utang (seperti: obligasi) yang mana perusahaan memang tidak berniat untuk menahan hingga jatuh tempo. Berdasarkan aturan GAAP, jika perusahaan memiliki kurang 20% dari ekuitas penerbit sekuritas yang tersedia untuk dijual, sekuritas tersebut akan ditampilkan pada nilai pasar wajarnya di dalam neraca.

Dengan kata lain, nilai sekuritas cenderung berasal dari harga kuotasi (pasar saham atau pasar obligasi) sehingga tunduk pada fluktuasi seperti halnya sekuritas perdagangan (trading securities). Jika perusahaan memiliki lebih 20% dari penerbit efek ekuitas, metode penilaian yang disebut metode ekuitas digunakan.

  1. Sekuritas yang disimpan sampai jatuh tempo (held-to-maturity securities).

Ini juga dapat diklasifikasikan sebagai aktiva lancar. Held-to-maturity securities ditampilkan sebagai bagian dari investasi jangka pendek: tergantung apakah siap untuk dikonversi menjadi uang tunai atau sesuai niat perusahaan untuk menyimpan sampai jatuh tempo (maksimal satu tahun). Contoh aset lancar ini yaitu instrumen utang (seperti obligasi) yang ditahan hingga jatuh tempo). Jika obligasi lebih dari satu tahun, investasi tersebut akan diklasifikasikan ke dalam investasi jangka panjang di dalam neraca. Investasi yang ditahan sampai jatuh tempo dicatat sebagai biaya amortisasi.

3. Piutang (Receivables)

Salah satu jenis aset lancar (current assets) lainnya adalah piutang (account receivables). Menurut Sheran (2015), yang dimaksud dengan piutang adalah hak klaim terhadap pelanggan yang timbul dari penjualan (sales) secara kredit. Piutang usaha (account receivables) dilaporkan sebesar nilai realisasi bersih, lalu dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu (doubtful accounts) dari saldo yang dilaporkan. Menurut Griffin (2015), ada 3 (tiga) kategori utama piutang, yakni:

  1. Jumlah terutang dari pelanggan untuk penjualan produk (barang dan jasa) secara kredit, yang biasa disebut piutang dagang (trade receivables) atau piutang usaha (account receivables).
  2. Surat promes (promissory notes), juga dapat disebut wesel tagih (notes receivable).
  3. Akrual yang harus dibayar untuk barang-barang, misalnya seperti sewa dan bunga, atau kewajiban yang harus dibayar, dan sejenisnya. Ini juga dapat disebut piutang lain-lain (other receivables).

Piutang dinilai sebesar jumlah terutang dari entitas bisnis yang berutang. Penyisihan terhadap kerugian dibuat dan diatur dalam akun kontra-aset, disebut juga “penyisihan piutang ragu-ragu.” Saldo akun kontra-aset dikurangkan dari akun terkait di dalam balance sheet.

Dalam hal penyisihan piutang tak tertagih (bad debt), piutang ragu-ragu, yang mana merupakan estimasi jumlah rupiah piutang yang akan menjadi tidak tertagih (uncollectible), dikurangi dari nilai piutang di neraca agar mendapatkan nilai buku piutang. Sebagai contoh, jika total terutang pelanggan adalah Rp 10 juta, seandainya diperkirakan dari Rp 10 juta tersebut sebanyak Rp 1 juta tidak dapat dikumpulkan, nilai buku piutang akan menjadi Rp 9 juta.

Selain itu, piutang juga dapat dihapuskan; proses untuk menghilangkan saldo piutang dari neraca. Ketika misalnya ditentukan jumlah terutang dari pelanggan tidak akan ditagih – biasanya terjadi ketika pelanggan bangkrut atau meninggal yang tidak menyisakan aset bersih – akun tersebut akan dihapuskan (sering disebut sebagai penghapusan atau write-off). Penghapusan akan mengurangi nilai aset piutang dan saldo penyisihan piutang ragu-ragu secara bersamaan.

4. Persediaan (Inventories)

Persediaan diperoleh perusahaan untuk kemudian dijual kembali atau digunakan untuk memproduksi barang tertentu yang pada akhirnya akan dijual. Perusahaan ritel hanya memiliki satu akun persediaan, disebut barang dagangan (merchandise). Perusahaan manufaktur umumnya memiliki tiga akun persediaan, yakni: bahan baku, barang setengah jadi (work in process), dan barang jadi (finished goods).

Persediaan dicatat pada harga yang lebih rendah dari pasar atau biaya. Nilai pasar atau market value juga disebut sebagai nilai realisasi bersih (net realizable value). Nilai realisasi bersih adalah jumlah realisasi yang diharapkan pada penjualan akhir persediaan, ditambah margin keuntungan normal. Adapun biaya-biaya yang harus dimasukkan ke dalam inventories meliputi:

  • Harga pembelian persediaan, atau dalam manufaktur, biaya bahan baku, tenaga kerja, dan biaya overhead (diperhitungkan ke dalam biaya akhir produk jadi).
  • Beban angkut pembelian yang berfungsi untuk membawa barang inventaris ke lokasi yang bersangkutan, sebagai contoh biaya pengiriman.
  • Tenaga kerja langsung (direct labors) dan overhead pabrik (manufacturing overhead) yang dikeluarkan dalam menyiapkan bahan mentah untuk penjualan akhir (final sale). Jenis biaya ini tidak terdapat pada perusahaan dagang atau ritel.
  • Overhead manufaktur (manufacturing overhead), mencakup biaya bahan baku tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, depresiasi atau penyusutan, pajak, utilitas, dan asuransi

Baca juga: Apa itu cost of goods sold/COGS atau HPP

Menurut Griffin (2015), setelah total biaya ditetapkan ke dalam persediaan (inventories), tahap terakhir adalah menentukan asumsi arus biaya (cost-flow assumption) yang akan digunakan dalam menilai persediaan. Adapun metode penilaian (valuation) yang paling umum yaitu:

  1. Specific identification
  2. Average cost
  3. First in, first out (FIFO)
  4. Last in, first out (LIFO)

5. Beban Dibayar di Muka (Prepaid Expenses)

Komponen aset lancar (current assets) yang terakhir adalah beban dibayar di muka atau prepaid expenses. Biaya dibayar di muka adalah jenis pengeluaran yang akan memberikan manfaat di masa depan. Sebagai contoh, sewa dibayar di muka, pajak, komisi, royalti, perlengkapan kantor dibayar di muka, dan asuransi. Pos atau item dibayar di muka akan dialokasikan ke periode masa mendatang sesuai manfaat yang dapat diukur, penggunaan, atau biaya waktu. Misalnya, jika perusahaan memiliki sewa dibayar di muka selama satu tahun, setiap bulan akan membebankan seperdua belas dari total sewa dibayar di muka.

Ringkasan Jenis Aset Lancar (Current Assets)

Ada 5 (lima) jenis aset lancar yang telah dijelaskan secara lengkap sebelumnya. Berikut ringkasan tentang jenis dan macam-macam aktiva lancar tersebut  (Fabozzi dan Drake, 2009).

  • Kas dan setara kas – uang tunai, aset yang setara dengan uang tunai (seperti rekening bank), dan tagihan (bills).
  • Marketable securities – surat berharga yang dapat segera dijual.
  • Piutang usaha – jumlah terutang dari pelanggan dari penjualan secara kredit.
  • Persediaan – investasi dalam bahan mentah, barang dalam proses, dan barang jadi.
  • Beban dibayar di muka – pengeluaran yang menghasilkan manfaat di masa depan.

Pada dasarnya, kebutuhan perusahaan atau bisnis terhadap aset lancar (current assets) sangat tergantung pada siklus operasinya (operating cycle). Yang dimaksud dengan siklus operasin adalah jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengubah investasi cash menjadi barang dan jasa yang kemudian dijual kembali menjadi cash dalam bentuk penagihan dari pelanggan. Semakin panjang operating cycle perusahaan, semakin besar kebutuhan perusahaan terhadap likuiditas.

Rumus dan Cara Menghitung Aset Lancar

Pada dasarnya, rumus atau cara menghitung aset lancar atau aktiva lancar yaitu dengan menjumlahkan semua komponen atau item aset lancar suatu perusahaan untuk periode waktu tertentu. Agar lebih mudah, berikut contoh perhitungan aset lancar (current assets) perusahaan manufaktur, sampel pada PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) untuk periode tahun 2020.

aset lancar di dalam laporan posisi keuangan atau neraca sampel pada Indofood

Berdasarkan laporan posisi keuangan atau neraca Indofood di atas, diketahui item dan nilai aset lancar pada tahun 2020 yaitu sebagai berikut (dalam jutaan):

  • Kas dan setara kas senilai = 9.535.418
  • Piutang, terdiri dari piutang usaha (pihak ketiga sebesar 2.380.015 dan pihak berelasi 2.893.401) dan piutang bukan usaha (pihak ketiga sebesar 59.349 dan pihak berelasi 413.990), sehingga total piutang menjadi 5.746.755.
  • Persediaan bersih = 4.586.940
  • Uang muka dan jaminan = 628.839
  • Pajak dibayar di muka = 165.439
  • Beban dibayar di muka dan aset lancar lainnya = 52.832

Setelah menjumlahkan semua item tersebut, maka diperoleh total aset lancar (current assets) tahun 2020 sebesar 20.716.223.

Untuk melihat detail informasi setiap item aset lancar, Anda dapat melihat di catatan (notes) alias Catatan Atas Laporan Keuangan.

Rasio Keuangan yang Berkaitan dengan Aset Lancar

Aset lancar atau aktiva lancar adalah elemen penting untuk pengukuran rasio keuangan perusahaan khususnya sebagai indikator likuiditas. Dari sekian banyak jenis rasio keuangan, current assets dijadikan perhitungan utama dalam Rasio Likuiditas.

Secara umum, rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi utang atau kewajiban atau liabilitas jangka pendek. Rasio likuiditas terdiri dari:

Untuk mengetahui lebih jauh terkait rumus, cara menghitung, cara interpretasi, dan cara analisis rasio likuiditas beserta rasio lancar, rasio cepat, dan rasio kas, silakan baca selengkapnya di artikel invesnesia sebelumnya.

Perbedaan Aset Lancar dengan Aset Tidak Lancar (Aset Tetap)

Aset tidak lancar dan aset lancar merupakan dua hal yang berbeda, setidaknya dari empat segi, yaitu jangka waktu, penggunaan, likuiditas, dan depresiasi.

  • Jangka Waktu

Aset lancar biasanya digunakan untuk jangka waktu pendek, maksimal satu tahun. Sedangkan aset tidak lancar (non current assets) alias aset tetap memiliki periode waktu lebih panjang, yakni di atas satu tahun.

  • Penggunaan

Perbedaan aset lancar dan aset tidak lancar juga dapat dilihat dari tujuan penggunaan. Aset lancar digunakan untuk aktivitas finansial, seperti pembelian bahan baku, pembayaran utang, gaji karyawan, investasi jangka pendek, dan sebagainya. Sedangkan aset tidak lancar umumnya digunakan untuk aktivitas produksi.

  • Likuiditas

Perbedaan aktiva tetap dan aktiva lancar adalah dalam hal likuiditas. Sebagaimana yang diketahui, aset lancar relatif mudah dikonversi menjadi kas atau uang tunai, sehingga dapat digunakan sebagai pembayaran langsung. Sedangkan pencairan aktiva tetap membutuhkan waktu yang relatif lama alias tidak likuid.

  • Depresiasi atau Penyusutan

Aset tidak lancar atau aset tetap akan mengalami depresiasi dari waktu ke waktu karena aktivitas penggunaan dan manfaat ekonomis yang berkurang. Sedangkan aset lancar tidak mengalami penyusutan.

Simpulan

Aset lancar (current assets) adalah jenis aset (aktiva) yang lebih likuid dari pada aset tetap atau aset tidak lancar. Aset lancar mudah dikonversi menjadi uang tunai (cash) sehingga dapat digunakan untuk aktivitas keuangan secara langsung. Di dalam neraca (balance sheet) aset lancar akan dimuat berdasarkan urutan likuiditasnya, dan jenis aset lancar paling likuid adalah kas dan setara kas. Well, itulah makalah atau materi apa itu aset lancar atau aktiva lancar. Semoga apa yang disampaikan di sini bisa menambah pengetahuan Anda.

error: Content is protected !!