Break Even Point (BEP): Pengertian, Cara Menghitung, & Analisis

Dalam dunia bisnis, istilah BEP atau break even point mungkin sangat familier yang menunjukkan titik impas atau pengembalian modal. Setiap perusahaan harus mampu mengukur berapa jumlah penjualan unit produk yang harus dicapai agar mampu menutupi biaya operasional bisnis. Oleh karena itu, perhitungan dan analisis BEP sangat diperlukan. Invesnesia akan menyajikan makalah break even point dengan pembahasan yang lengkap. Mulai dari pengertian, manfaat, tantangan, komponen, rumus dan cara menghitung, contoh soal, grafik, hingga analisis break even point (BEP).

Pengertian Break Even Point (BEP Definition)

Apa itu break even point atau BEP? Secara umum, break even point adalah titik impas, kondisi di mana pendapatan dan beban bernilai sama dalam satu periode akuntansi. Dengan kata lain, perusahaan tidak mengalami kerugian bisnis dan tidak pula memperoleh laba. BEP adalah indikator penting untuk menentukan penjualan (sales) atau pendapatan (revenue) yang harus dicapai perusahaan agar dapat menutupi total biaya (total cost) untuk periode yang spesifik, bulanan, triwulan, semester, atau tahunan.

Break even point (BEP) tidak hanya digunakan dalam perhitungan bisnis akuntansi perusahaan saja. BEP juga dapat digunakan oleh investor dalam investasi saham, investasi reksa dana, investasi cryptocurreny, perdagangan forex, dan lainnya. BEP merupakan nilai yang harus dicapai agar biaya investasi awal bisa di-cover. Ketika perusahaan atau investor mampu melebihi titik impas alias BEP, selisihnya adalah total profit (return). Sebaliknya, jika tidak mampu mencapai BEP, selisihnya adalah total kerugian.

Contoh BEP sederhana dalam bisnis seperti misalnya pada UMKM usaha coffee shop. Asumsi bahwa bisnis mengeluarkan total cost, mencakup HPP (COGS) dan beban-beban lainnya selama periode satu bulan sebesar Rp 50 juta. Sementara itu, bisnis mampu menghasilkan pendapatan dengan jumlah yang sama, Rp 50 juta. Dalam hal ini, bisnis coffee shop telah mencapai titik impas atau break even point untuk periode satu bulan.

Sedangkan contoh BEP sederhana pada investasi di instrumen tertentu, misalnya saham, asumsi bahwa Anda beli saham BCA (BBCA) sebanyak 10 lot pada harga Rp 30.000 per lembar. Jumlah uang pembelian yang Anda keluarkan adalah toal uang pembelian saham ditambah biaya dan fee transaksi broker. Jumlah pembelian saham untuk 10 lot BBCA setara dengan Rp 30 juta. Katakanlah total fee dan biaya terkait adalah 2% dari nominal pembelian, sehingga setara dengan Rp 600 ribu. Dengan demikian, untuk mencapai break even point (BEP), Anda harus melakukan penjualan saham bersih senilai Rp 30,6 juta.

Manfaat Break Even Point

Ada sejumlah kelebihan atau manfaat analisis break even point bagi bisnis, yaitu sebagai berikut.

  • Penggunaan yang sederhana, mudah dihitung, dan diinterpretasi. Break-even analysis memungkinkan setiap bisnis, termasuk umkm, untuk mengukur kinerja periodik mereka tanpa perhitungan yang ribet.
  • Analisis BEP pastinya membantu evaluasi pencapaian perusahaan dan pengambilan keputusan strategi.
  • Break-even analysis dapat mencerminkan kemampuan manajemen operasional perusahaan, bagaimana mereka mencapai penjualan dan mengelola biaya secara efisien.

Tantangan Break Even Point

Meskipun memiliki sejumlah kelebihan, break even point juga memiliki sejumlah kontra (cons), kekurangan, atau keterbatasan tertentu, yaitu sebagai berikut.

  • Titik impas suatu bisnis biasnya menggunakan proyeksi sehingga tidak ada kepastian bahwa nilai tertentu bisa mencapai break even point (BEP).
  • Tantangan dalam perhitungan BEP adalah biaya variabel (variable cost) yang berubah-ubah setiap saat karena perubahan kondisi pasar.
  • Jika perusahaan memiliki variasi produk yang banyak, penentuan biaya tetap lebih kompleks dan perhitungan break even point (BEP) akan membutuhkan waktu lebih banyak.
  • BEP hanya membantu Anda untuk mencapai titik impas atau balik modal dari aktivitas bisnis. Namun, BEP tidak dapat menjadi acuan permintaan pasar. Anda mungkin akan mengetahui unit produk yang harus dijual dengan harga tertentu, tetapi itu tidak pasti akan terjual dalam jumlah yang sama pada suatu periode, karena permintaan pasar fluktuatif.
  • BEP menuntut Anda untuk memiliki data yang andal dan akurat. Pasalnya, perhitungan break even point bisa menjadi lebih rumit ketika Anda tidak mampu membuat kategori biaya tetap dan biaya variabel secara tepat. Anda mungkin memiliki tenaga kerja tetap, tetapi juga mesti menghitung biaya tenaga kerja tambahan.

Komponen Break Even Point

Dalam perhitungan break even point, ada sejumlah komponen BEP yang penting untuk dicermati dan dipahami, yaitu sebagai berikut.

  • Biaya variabel (variable costs). Ini merupakan jenis biaya yang berubah-ubah tergantung volume dan kapasitas produksi. Contoh, biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung.
  • Biaya tetap (fixed cost). Ini merupakan biaya yang sama sekali tidak berubah dalam periode akuntansi meskipun terjadi peningkatan dan/atau penurunan volume produksi. Contoh, biaya gaji karyawan, biaya sewa, biaya bunga, overhead pabrik, dan biaya penyusutan (depresiasi).
  • Harga Jual Produk Per Unit. Untuk menentukan harga jual, secara sederhana perusahaan dapat menghitung biaya langsung (bahan baku dan tenaga kerja langsung) dan biaya overhead (biaya tidak langsung), lalu dibagi dengan jumlah unit produksi, maka diperoleh biaya produk per unit. Kemudian, perusahaan dapat mengambil margin keuntungan tertentu di atas biaya produk per unit. Baca juga: Strategi Penetapan Harga Produk.
  • Pendapatan (revenue). Ini merupakan arus kas masuk (cash inflows) akibat penjualan (sales) yang dilakukan perusahaan. Pendapatan berbeda dengan laba. Untuk menghitung laba, perusahaan harus mengurangi pendapatan dengan semua biaya. Bagaimanapun juga, revenue dapat menjadi metrik untuk mencari titik impas atau break even point/BEP perusahaan.

Rumus dan Cara Menghitung Break Even Point

Cara menghitung break even point secara sederhana dapat menggunakan formula atau rumus BEP berikut ini.

Rumus break even point adalah  BEP = Biaya tetap / (Harga jual produk per unit – Biaya variabel per unit).

Dengan kata lain, langkah-langkah menghitung BEP adalah sebagai berikut:

  • Hitung jumlah biaya tetap perusahaan selama satu periode tertentu.
  • Tentukan harga jual produk per unit selama satu periode tertentu.
  • Tentukan biaya variabel per unit selama satu periode tertentu.
  • Kemudian, biaya tetap dibagi dengan selisih antara harga jual per unit dengan biaya variabel per unit, maka akan menghasilkan break even point atau BEP.

Untuk lebih mudah memahami, berikut contoh soal perhitungan BEP perusahaan.

Contoh Soal Perhitungan Break Even Point

Diketahui sebuah bisnis coffee shop mengeluarkan biaya tetap operasional sebesar Rp 50 juta per bulan dengan biaya tidak tetap atau biaya variabel Rp 10 ribu per unit dan harga jual produk Rp 30 ribu per unit. Berapakah unit produk yang harus dijual perusahaan agar balik modal atau mencapai titik impas (break even point/BEP)?

BEP = Biaya tetap / (Harga jual produk per unit – Biaya variabel per unit)

BEP = Rp 50 juta / (Rp 30 ribu – Rp 10 ribu)

BEP = Rp 50 juta / Rp 20 ribu

BEP = 2.500 unit

Dengan demikian, untuk mencapai break even point, perusahaan coffee shop harus menjual sebanyak 2.500 unit produk untuk satu periode tertentu.

Grafik BEP

Contoh Grafik BEP

Berdasarkan contoh soal perhitungan BEP di atas, grafik break even point dapat digambarkan sebagai berikut. Anda akan melihat rincian lebih mudah terkait titik impas (BEP), garis pendapatan, garis biaya tetap, dan garis total biaya (biaya tetap + biaya variabel).

Cara Analisis Break Break Even Point

Apa itu analisis break even point (BEP)? Secara umum, break-even analysis adalah indikator untuk menentukan suatu titik di mana perusahaan harus mencapai penjualan tertentu agar menutupi total biaya yang dikeluarkan dalam suatu periode akuntansi. Analisis BEP atau titik impas akan membantu bisnis agar tidak mengalami kerugian secara terus-menerus karena tidak mampu mengontrol biaya dan memaksimalkan penjualan. Analisis break even point juga membantu menunjukkan apakah biaya tetap terlalu mahal atau sudah efisien.

Coba perhatian biaya tetap pada contoh soal di atas yang mana berjumlah Rp 50 juta, atau setara Rp 20 ribu per unit. Jika dibandingkan dengan biaya variabel yang hanya Rp 10 ribu per unit, artinya biaya tetap per unit bisnis coffee shop jauh lebih tinggi. Apakah ini sudah ideal atau masih dapat diminimalkan? Ini tergantung sektor bisnis. Ada bisnis yang membutuhkan aset tetap besar untuk menjalankan operasional bisnis, ada pula yang membutuhkan aset lancar yang lebih banyak. Dengan kata lain, Anda dapat melakukan perbandingan dengan sektor bisnis yang sama.

Perusahaan ritel makanan dan minuman harian seperti Alfamart mungkin akan membutuhkan lebih banyak aset lancar dalam bentuk persediaan (inventories) dibandingkan aset tetap. Sedangkan perusahaan manufaktur mungkin akan lebih banyak membutuhkan aset tetap untuk menjalankan kegiatan produksi. Jadi, kedua sektor bisnis ini tentu saja memiliki karakteristik tersendiri sehingga tidak relevan untuk dibandingkan.

Mengapa perlu melakukan analisis BEP?

Ada banyak manfaat dengan melakukan analisis break even point (BEP) yaitu sebagai berikut.

  • Menentukan harga jual produk kompetitif

Ketika Anda melakukan analisis BEP, Anda akan memperhitungkan berapa biaya tetap (fixed costs), biaya varibel, dan jumlah unit yang perlukan untuk menetapkan harga jual produk. Dengan demikian, Anda akan mampu mengambil margin keuntungan yang ideal atau kompetitif untuk memaksimalkan laba.

  • Menutupi biaya tetap

Berapapun jumlah unit yang Anda produksi, biaya tetap akan bernilai sama alias harus dikeluarkan dalam suatu periode tertentu. Dengan melakukan analisis break even point (BEP), itu memungkinkan Anda untuk mengestimasi berapa unit produk yang harus dijual agar biaya tetap dapat bayar.

  • Menentukan target revenue

Setiap perusahaan sudah seharusnya memiliki target pendapatan yang dihasilkan dari penjualan produk. Dengan melakukan analisis BEP, Anda akan memahami berapa penjualan yang harus direalisasikan untuk mencapai tingkat revenue tertentu.

  • Mengambil keputusan strategis

Analisis break even point (BEP) dapat membantu Anda mengambil keputusan strategis, misalnya apakah total biaya operasional sudah efisien atau belum? Bagaimana perbandingan harga produk dengan pesaing? Ketika pesaing atau kompetitor Anda menetapkan harga produk yang lebih murah dengan kualitas yang setara dengan produk Anda, mengapa mereka dapat melakukan itu? Dengan analisis BEP, semuanya akan tampak jelas. Bisa saja mereka lebih efisien dalam menekan biaya operasional bisnis.

Kapan harus melalukan analisis BEP?

Anda mungkin bertanya-tanya kapan waktu yang tepat untuk menganalisis break even point. Setidaknya ada (3) tiga periode waktu di mana Anda harus melakukan analisis break even point (BEP).

1. Memulai bisnis baru dan mengubah model bisnis

Bagi Anda yang mungkin akan memulai bisnis rintisan (startup) atau bisnis baru, memahami perhitungan dan analisis break even point (BEP) adalah hal terpenting. Meskipun mungkin Anda belum memiliki data yang reliable, Anda bisa membuat estimasi atau proyeksi. Caranya dengan melihat atau mengacu pada data kompetitor. Selain itu, analisa BEP juga perlu digunakan ketika Anda mengubah model bisnis.

2. Menciptakan produk baru

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada tantangan break even point, semakin banyak produk yang dihasilkan, perhitungan BEP akan membutuhkan waktu lebih banyak. Tentu saja, Anda tidak dapat menggeneralisasi semua produk ke dalam satu perhitungan saja. Kenapa? Karena setiap produk memiliki harga jual dan biaya variabel yang berbeda. Jadi, ketika Anda ingin membuat produk baru, pastikan untuk melakukan analisis break even point terlebih dahulu.

3. Menambahkan saluran penjualan baru

Mungkin sebelumnya penjualan bisnis Anda hanya bersifat offline, dan Anda berniat untuk membuka saluran penjualan baru (new sales channel) untuk memperluas jaringan pasar. Anda mungkin akan menemukan biaya-biaya baru yang tidak ada pada penjualan offline, sebagai contoh biaya digital marketing. Dengan demikian, Anda harus menyesuaikan kembali harga jual produk sehingga perlu dilakukan analisis break even point (BEP).

Analisis BEP dengan Tepat

Break even point atau BEP adalah titik impas dari aktivitas bisnis, artinya Anda akan memperoleh pengembalian modal dalam jumlah yang sama, tidak lebih dan tidak kurang. Analisis BEP sangat penting dilakukan untuk mengukur apakah biaya tetap bisnis sudah efisien atau terlalu besar; apakah margin keuntungan dari harga jual sudah ideal atau ketinggian; apakah perubahan biaya variabel sangat signifikan atau stabil. Semuanya dapat diketahui ketika Anda melakukan analisa break even point. Ditambah lagi dengan deskripsi dnegan grafik BEP, Anda akan lebih mudah melihat historis volume penjualan.

error: Content is protected !!