Internal Rate of Return, IRR Adalah: Rumus, Soal, Cara Menghitung

Ketika suatu perusahaan ingin membandingkan suatu proposal investasi atau proyek, mereka akan melakukan estimasi untuk cash flow masa depan dengan melihatnya pada saat ini. Internal rate of return atau IRR adalah perhitungan untuk melihat seperti apa prospek sebuah investasi atau proyek. IRR proyek yang tinggi dianggap lebih menguntungkan. Lalu, bagaimana cara menghitung IRR? Berikut ini invesnesia berikan materi internal rate of return (IRR) secara lengkap.

Pengertian Internal Rate of Return (IRR)

Internal rate of return IRR

Apa itu internal rate of return (IRR)? Dalam proposal investasi, tingkat pengembalian internal atau internal rate of return adalah tingkat diskonto (discount rate) untuk penyesuaian nilai sekarang (present value) dari eskpektasi arus kas di masa depan dan arus kas keluar di awal (initial cash outflows/ICO).

Pengertian internal rate of return (IRR) juga dijelaskan oleh para ahli. Seperti yang diungkapkan oleh Brigham dan Houston (2013) bahwa  IRR adalah tingkat diskonto yang memaksa nilai saat ini (present value/PV) dari arus kas masuk sama dengan biaya (cost).

Dengan kata lain, IRR akan membuat PV dari suatu proyek menjadi nol. Sementara itu, IRR akan melihat pada tingkat pengembalian tahunan dari suatu proyek atau investasi. Sebagai contoh, ketika investasi awal sebuah proyek memiliki IRR sebesar 20%, itu artinya tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sama dengan 20%. Ini merupakan bentuk estimasi untuk sebuah proyek.

Fungsi dan Tujuan Internal Rate of Return (IRR)

Pada dasarnya, internal rate of return adalah indikator dalam analisis keuangan untuk menentukan profitabilitas suatu proyek atau investasi. Dengan kata lain, tujuan IRR adalah untuk melihat apakah sebuah proyek akan menguntungkan atau tidak ketika dijalankan. Ingatlah bahwa perhitungan IRR merupakan bentuk estimasi untuk sebuah proposal proyek.

Hubungan IRR dan NPV

IRR dan net present value (NPV) merupakan beberapa alternatif dalam memperkirakan profitabilitas suatu proyek dan investasi. IRR dan NPV sama-sama menjadi teknik dalam capital budgeting; sedangkan teknik lainnya yaitu payback period.

Perhitungan IRR dan NPV menggunakan pendekatan rumus yang sama. Perlu dicatat bahwa IRR adalah estimasi atau perkiraan nilai sebuah investasi atau proyek dan bukan nilai sebenarnya. Begitu juga dengan NPV yang mengadopsi pendekatan estimasi.

Nilai internal rate of return (IRR) yang tinggi akan menjelaskan bahwa sebuah proyek akan profitable jika dilanjutkan. Sebaliknya, IRR yang rendah atau lebih kecil dari biaya investasi awal akan menunjukkan prospek buruk (tidak menguntungkan) pada sebuah proyek.

Dalam beberapa kasus, setiap proyek yang masuk akan memperhitungkan IRR. Setiap proyek biasanya akan dibedakan berdasarkan karakteristik tertentu. Ketika sejumlah proyek atau investasi memiliki sektor atau karakteristik serupa, itu kemudian akan dibandingkan satu sama lain dengan menghitung IRR. Nilai IRR proyek yang lebih tinggi akan lebih dipertimbangkan.

Hubungan IRR dan WACC

WACC adalah singkatan dari weighted average cost of capital. Ini merupakan biaya modal secara rata-rata dari berbagai sumber modal (ekuitas dan utang). WACC yang digunakan oleh perusahaan bersamaan dengan IRR dalam melihat prospek dan profitabilitas sebuah investasi atau proyek. Nilai IRR biasanya akan relatif tinggi dan memungkinkan pencapaian NPV sama dengan 0. Nilai IRR di atas WACC akan menjadi pertimbangan utama dari perusahaan.

Rumus Internal Rate of Return

Cara menghitung internal rate of return atau rumus IRR adalah nilai saat ini dari arus kas bersih dikurangi arus kas keluar awal atau initial cash outflow (ICO). Formula IRR dapat dilihat sebagai berikut (Horne dan Wachowicz, 2009).

ICO = (CF1 / (1 + IRR)^1) + (CF2 / (1 + IRR)^2) + …. + (CFn / (1 + IRR)^n)

Keterangan:

  • ICO = initial cash outflow (arus kas keluar di awal)
  • CF1 = cash flow periode ke-1
  • CF2 = cash flow periode ke-2
  • CFn = cash flow pada tahun n
  • n = periode investasi atau proyek

Menurut Brigham dan Houstin (2013), untuk menghitung IRR, pendakatan yang digunakan sama dengan NPV dengan mengubah r menjad IRR dan menetapkan bahwa NPV = 0. Persamaan ini akan memaksa NPV sama dengan nol. Berikut perbandingan rumus NPV dan IRR.

Rumus NPV = CF0 + [(CF1 / (1 + r)^1) + (CF2 / (1 + r)^2) + …. + (CFn / (1 + r)^n)]

Rumus IRR adalah 0 = CF0 + [(CF1 / (1 + IRR)^1) + (CF2 / (1 + IRR)^2) + …. + (CFn / (1 + IRR)^n)]

Keterangan:

  • CF0 = pengeluaran investasi awal. Ini akan hihitung sebagai nilai negatif karena terjadi arus kas keluar (cash outflow).

Contoh Soal dan Cara Menghitung IRR di Excel

IRR adalah perkiraaan tentang prospek dari suatu investasi: apakah profitable atau tidak. Nilai biasanya belum diketahui di awal dan bisa saja tidak terhingga. Berikut ini contoh soal (kasus) dan cara menghitung IRR.

Diketahui sebuah proyek investasi membutuhkan biaya modal 200 juta untuk beli aset dan biaya modal atau WACC sebesar 10%. Manajemen perusahaan memperkirakan usia aset hanya 3 tahun. Perkiraan arus kas setiap tahun adalah 100 juta.

Diketahui:

  • investasi awal = 200 juta
  • rate = 10%
  • CF1 = 100 juta; CF2 = 100 juta; dan CF3 = 100 juta

Untuk perhitungan IRR lebih cepat dan mudah, Anda dapat menggunakan excel.

Cara mencari nilai IRR di excel adalah IRR(arus kas dari tahun 0 sampai tahun terakhir yaitu 3). Setelah itu Anda dapat menekan enter.

Cara Menghitung IRR di excel

Coba Anda perhatikan tampilan perhitungan IRR dan NPV di atas. Dengan asumsi rate = 10%, nilai NPV adalah 48.685.199.

Ingatlah bahwa asumsi dari perhitungan IRR adalah menetapkan NPV sama dengan 0. Jadi, jika nilai NPV 48.685.199 dijadikan 0, maka nilai IRR = 23,38%. Coba lihat asumsi tampilan excel berikut ini.

Perhitungan IRR di excel

Ketika rate diubah menjadi 23,38% atau dengan desimal lebih banyak sekitar 23,375193%, maka NPV akan bernilai sama dengan 0.

Kelebihan dan Kekurangan Interest Rate of Return

Kelebihan IRR adalah sebuah metrik yang ideal untuk menganalisis sebuah proyek dengan melakukan perbandingan tingkat pengembalian secara tahunan dari waktu ke waktu. Sementara itu, kekurangan IRR adalah tidak dapat memberikan gambaran terkait laba atas investasi awal secara riil. Sebagai contoh, nilai IRR 23,38% tidak menjelaskan apapun terkait laba atas investasi awal. Ingatlah bahwa sama dengan NPV, IRR juga bertumpu pada asumsi atau estimasi yang menganggap arus kas masa depan bernilai positif.

Penggunaan IRR secara eksklusif bisa jadi akan menghasilkan keputusan investasi yang buruk jika tidak bijaksana dalam membandingkan antar proyek, terlebih jika setiap proyek memiliki durasi yang berbeda. Misalnya, jika proyek A memberikan IRR 25% dalam periode dua tahun, dan proyek B memiliki IRR 23,38% dalam periode tiga tahun, keputusan hanya berdasarkan IRR saja mungkin tidak menjadi pilihan bijaksana.

Biasanya, analis keuangan akan mempertimbangkan penggunaan MIRR sebagai alternatif perhitungan yang lebih akurat.

Simpulan

Internal rate of return atau IRR adalah metrik untuk mengukur dan membandingkan prospek profitabilitas setiap proyek atau investasi. Dalam mengambil kebijakan penganggaran modal (capital budgeting), perhitungan dengan IRR dapat menjadi alternatif, selain juga NPV, payback period, termasuk IRR yang dimodifikasi alias MIRR. Hanya bertumpu pada IRR memang tidaklah bijak. Itulah sebabnya penilaian sebuah proyek harus didasarkan pada karakteristik tertentu sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat. Tidak ada perhitungan yang benar-benar akurat, apalagi berbicara arus kas masa depan yang tidak seorang pun bisa menjamin. Namun, perhitungan IRR bisa dijadikan sebagai pertimbangan.

Leave a Comment

error: Content is protected !!