Terakhir diperbarui: 18 December 2025
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) adalah bank nasional yang berfokus pada pembiayaan perumahan dan bank komersial dengan jaringan luas di Indonesia. Bank yang mayoritas dimiliki oleh Pemerintah RI ini dikenal bertumbuh stabil dan secara berkala membagikan dividen kepada pemegang saham.
Untuk tahun buku 2024, BBTN memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp53,57 per saham, setara dengan total kas sekitar Rp751,83 miliar, yang mewakili sekitar 25% dari laba bersih tahun 2024.
Dividen ini dibayarkan sekali setahun (annual dividend) — yang artinya BBTN tidak memecah antara interim dan final, melainkan dibayar sekaligus setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
Dalam konteks ini, saat kita menyusun prediksi dividen BBTN 2026, kita akan memperkirakan apa yang kemungkinan akan diputuskan dalam RUPST untuk tahun buku 2025 dan 2026.
Pola Historis Pembayaran Dividen BBTN
Riwayat data dividen menunjukkan tren pembayaran yang relatif meningkat dari tahun ke tahun:
| Tahun Buku | Dividen per Saham (IDR) | Ex-Div Date |
| 2025 (FY24) | 53,57 | 15 Apr 2025 |
| 2024 (FY23) | 49,89 | Mar 2024 |
| 2023 (FY22) | 43,39 | Mar 2023 |
| 2022 (FY21) | 22,44 | Mar 2022 |
Data historis ini menunjukkan BBTN cenderung meningkatkan dividen dalam beberapa tahun terakhir, sejalan dengan pertumbuhan laba bersih dan kebijakan payout yang moderat.
Kebijakan Dividen
BBTN secara historis menetapkan payout dividen sekitar 20–25% dari laba bersih. Hal ini juga telah ditetapkan dalam laporan dividend policy bank sebagai kebijakan minimum payout berdasarkan RUPS, dengan mempertimbangkan kesehatan modal dan kebutuhan reinvestasi.
Untuk 2024, BBTN memilih payout 25% dari laba bersih, yang kemudian menghasilkan dividen Rp53,57 per saham.
Sebagai pembanding: Pemerintah RI sebagai pemegang saham mayoritas (±60%) juga menikmati bagian dividend payout, sedangkan sisanya menjadi hak publik.
Asumsi Proyeksi untuk Tahun 2025–2026
Dalam menyusun prediksi dividen BBTN 2026, kita perlu membuat beberapa asumsi rasional berdasarkan:
- Trend pertumbuhan laba bersih (terkait NII/NIM, pertumbuhan kredit, efisiensi biaya),
- Dividend payout ratio historis & kebijakan manajemen,
- Kebutuhan modal & capex (termasuk ekspansi bisnis),
- Kondisi makro industri perbankan (suku bunga, risiko kredit).
Karena BBTN membayar dividen sekali setahun, maka kita akan membagi prediksi berdasarkan total dividen tahunan untuk tahun buku 2026.
Skenario Proyeksi Dividen BBTN 2026
Berikut ini adalah tiga skenario proyeksi:
A. Bull Case (Optimis)
- Asumsi pertumbuhan laba bersih 8–10% per tahun di luar tahun buku 2025–2026.
- Payout ratio tetap 25–27%, sejalan dengan kebijakan manajemen konservatif.
- Dengan pola linear dari dividen FY24 → FY25 → FY26, kenaikan dividen bisa mencapai +10–15% dibanding FY25.
Estimasi DPS 2026: Rp60–Rp62 per saham
B. Base Case (Realistis)
- Pertumbuhan laba moderat 5–7% per tahun.
- Payout ratio stabil di 25% karena BBTN cenderung menahan laba untuk modal dan ekspansi.
- Dividen meningkat mengikuti pertumbuhan laba.
Estimasi DPS 2026: Rp57–Rp60 per saham
C. Bear Case (Konservatif)
- Laba bersih stagnan atau sedikit menurun karena tekanan pasar (mis. NPL atau biaya dana meningkat).
- Payout ratio turun di 20–23% untuk menjaga buffer modal dan ekspansi digital/teknologi.
Estimasi DPS 2026: Rp50–Rp55 per saham
Semua angka di atas adalah proyeksi berdasarkan tren historis & asumsi realistis. Hasil aktual akan sangat tergantung pada performa BBTN di tahun 2025 dan keputusan RUPST.
Apakah Ada Pembagian Dividen Interim?
Berbeda dengan bank-bank besar lain yang kadang membagi dividen interim dan final, BBTN selama ini hanya membagikan satu dividen tahunan (final) setelah RUPST. Pola ini membuat pembagian interim jarang atau bahkan tidak dilakukan. Dengan demikian untuk tahun 2026, prediksi dividen akan lebih relevan sebagai DPS total tahunan, bukan interim + final secara terpisah.
Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai Investor
Dalam merencanakan investasi dividen BBTN, investor perlu mempertimbangkan:
- Perubahan kebijakan payout: bisa jadi lebih rendah jika bank butuh menambah cadangan modal atau menghadapi persyaratan regulator.
- NPL & biaya kredit tumbuh: tekanan risiko kredit dapat menggerus laba dan dividen.
- Suku bunga & likuiditas pasar: pengaruh terhadap NIM dan kemampuan bank menghasilkan arus kas bebas.
- Kondisi makro ekonomi Indonesia: dampak pada sektor perumahan (core business BBTN) dan permintaan kredit.
Kesimpulan
Prediksi Dividen BBTN 2026 menunjukkan bahwa dividen tahunan BBTN kemungkinan akan bergerak di kisaran Rp50–Rp62 per saham, dengan estimasi paling realistis di Rp57–Rp60 per saham berdasarkan tren historis, dividend payout yang konsisten, serta kebijakan manajemen. Karena BBTN biasanya membagikan dividen sekali setahun, investor harus bersiap menyambut pengumuman dividen ini usai RUPST untuk tahun buku 2025. Keputusan final tetap bergantung pada performa laba, kondisi modal, serta keputusan pemegang saham dalam rapat umum.








